Sebelum Biduk Jauh ke Lautan

Jika kita mengurut sejarah politik dalam dinamika peradaban Islam, tentunya kita akan sampai pada masa di saat Islam baru saja muncul ke permukaan sebagai syari’at baru di muka bumi, masa itu dikenal dalam khazanah keilmuan Islam dengan “shadrul islam”, tepatnya ketika Rasulullah saw. menginjakkan kakinya di tanah hijrah, Yatsrib (sekitar Madinah sekarang).

Pakar sejarah mengungkapkan bahwa hijrahnya Rasulullah saw. ke Madinah merupakan babak awal dari perjalanan Islam sebagai sebuah agama yang syamil (universal). Mereka juga menyebutkan bahwa Rasul saw. di saat itu bukan hanya sekedar nabi atau rasul biasa, lebih dari itu beliau juga berperan sebagai kepala negara.

Sebagai pemimpin, hal yang pertama beliau lakukan di Madinah adalah mendirikan sebuah masjid. Di masjid tersebut syiar-syiar agama mulai di sebarluaskan, di sana generasi awal Islam ditempa. Bahkan lebih dari itu, sampai urusan pengaturan urusan masyarakat, politik dan perang diatur dan dirancang dari tempat suci itu.

Maka jadilah masjid sebagai salah satu instrumen penting dalam kehidupan duniawi dan ukhrawi.

Risalah penting masjid ini terus berlanjut seolah-olah ia merupakan sunah dan tradisi bahwa untuk menyeimbangkan nilai-nilai duniawi dan ukhrawi setiap kali kaum muslimin membuka daerah baru, setelah mendirikan kota sebagai lambang politik, tidak lupa disaat yang bersamaan sebuah masjid juga dibangun sebagai lambang agama dan ruh Islam itu sendiri.

Adalah khalifah kedua pasca wafatnya Rasul saw, Umar bin Khattab r.a, orang pertama yang menjalankan sunah ini. Karena memang pada masa beliaulah futuhat (perluasan daerah) Islam mulai bergema. Ketika itu Umar bin Khattab r.a meminta kepada setiap wali-wali negeri yang baru dibuka tersebut-termasuk Amr bin Ash di Mesir- untuk membangun masjid di setiap ibu kota yang mereka dirikan. Sehingga kita menemukan-sampai saat ini- dikota-kota seperti Bashrah. Kufah, kota-kota di kawasan Syam, Fusthat, Qairawan, Cordova dan lain-lain, berdiri megah masjid-masjid jami’ yang melanjutkan tradisi yang telah dimulai pada masa Rasul saw. sebelumnya.

Tradisi ini oleh Dr. Abd. ‘Aziz Muhammad asy-Syinawi dikategorikan ke dalam salah satu prinsip dasar politik dalam Daulah Islamiyah.

* * *

Masjid Jami’  merupakan istilah yang berkembang seiring perkembangan Islam. Masjid Jami’ (seterusnya disingkat Jami’ saja) memiliki fungsi-fungsi yang lebih dari sekedar sebuah masjid biasa.

Di Jami’ dilaksanakan shalat jama’ah. Dahulu di masa-masa awal Islam, wali negeri langsung menjadi imam shalat jum’at dan dua ied di Jami’ negerinya karena ia adalah wakil khalifah. sehingga diantara gelar yang diberikan kepada wali negeri adalah “amirush shalah”(imam shalat).

Seterusnya, Jami’ juga berfungsi sebagai pusat informasi, konfirmasi dan komunikasi resmi pemerintah. Di sanalah diumumkan instruksi, perintah, keputusan  dan pengumuman-pengumuman resmi.

Di Jami’ juga berada badan-badan/dewan-dewan pemerintahan, seperti Qadhi atau Hakim Negeri dan Badan Perpajakan.

Di samping itu semua, di Jami’ berkumpul ulama-ulama tafsir, hadits, fiqih dan bahasa arab. Olehkarenanya jadilah Jami’ sebagai sumber pendidikan/kajian ilmu-ilmu agama dan bahasa dengan diadakannya berbagai halaqoh atau kelompok-kelompok belajar. Setiap kelompok mengkaji dan mendalami satu disiplin ilmu dibawah bimbingan seorang ulama dengan spesialisasinya masing-masing.
Sehingga Jami’ merupakan pusat perkembangan dan penyebaran ilmu dan pemikiran di kotanya.

* * *

Profil Jami’-Jami’ di Mesir Sebelum Berdirinya Al-Azhar

MASJID JAMI’ ‘AMRU

Pembangunan Jami’ ‘Amru mengikut tradisi yang digariskan Rasul saw. sebagaimana yang telah dijelaskan di atas. Ketika ‘Amru bin Ash berhasil melaksanakan misinya masuk daerah Mesir pada tahun 20 H. (641 M.), seketika itu juga beliau mendirikan kota sebagai simbol bahwa kawasan Mesir secara politik berada di bawah bendera Islam, kota itu dinamai Fusthat. Kota tersebut dibangung di atas tanah lapang yang membentang antara Nil dan bukit Muqattham, saat itu di atasnya tidak berdiri satu bangunanun pun kecuali  benteng Babilon yang sedang mereka kepung.
Maka dengan demikian Fusthat adalah kota Islam pertama di Mesir. Di awal-awal pembangunannya, Fusthat hanya dihuni oleh orang arab saja.

Seiring dengan pendirian simbol politik Islam, ‘Amru bin Ash melanjutkan misinya dengan mendirikan simbol agama Islam yaitu sebuah masjid jami’ yang dinamai dengan namanya, Jami’ ‘Amru bin Ash.

Jami’ ‘Amru memiliki banyak nama lain, seperti; al-Jami’ul ‘Atiq, Tajul Jawami’, Jami’ Misr dan lain sebagainya.

JAMI’ AL- ‘ASKAR
Setelah berhasil merebut kekuasaan kekhilafahan dari tangan Bani Umayyah, Bani Abbasiyah terus melakukan pengejaran terhadap sisa-sisa kekuatan Umayyah yang melarikan diri ke daerah Mesir. Pengejaran yang dipimpin oleh Shalih bin Ali itu berakhir dengan sebuah pertempuran yang dimenangkan pihak Abbasiyah dan terbunuhnya Marwan bin Muhammad, khalifah Umayyah terakhir, pada akhir tahun 132 H.

Untuk mengukuhkan kemenangan dan mengokohkan kedudukan Dinasti Abbasiyah di kawasan Mesir, Shalih bin Ali membangun sebuah kota yang disebut dengan kota ‘Askar dan menjadikannya ibu kota baru bagi Mesir di bawah kekuasaan Abbasiyah. Maka ‘Askar adalah kota Islam kedua yang didirikan di Mesir setelah Fusthat.

Pada tahun 169 H/785 M, Fadl bin Shalih bin Ali, wali Mesir ketika itu berinisiatif mendirikan sebuah masjid jami’ di kota ‘Askar tersebut, yang kemudian dikenallah masjid tersebut dengan nama Jami’ ‘Askar.
Dengan demikian jami’ ini merupakan masjid jami’ kedua di Mesir.

JAMI’ IBN TOULOUN

Dinasti Bani Touloun berdiri pada tahun 254 H (868 M). Pendirinya Ahmad bin Touloun memembangun ibu kota baru sebagai ganti dari kota ‘Askar yang merupakan pusat pemerintahan wali-wali Dinasti Abbasiyah. Kotatersebut berada disebelah utara Fusthat antara bukit Yasykur dan kaki Muqattham. Yang membedakan kota ini dari kota-kota sebelumnya adalah pada sistem tata kotanya, para pejabat negara, pemimpin pasukan dan kalangan pengusaha ditempatkan pada kawasan-kawasan khusus yang disebut “qathi’ah”. Istilah qathi’ah selalu diikuti dengan nama kelompok yang menghuninya.
karena kota ini terdiri dari qathi’ah-qathi’ah maka dinamakanlah kawasan tersebut dengan Qathai’ dan nama ini terus berlaku sampai sekarang.

Di dalam kota qathai’ itu dibangunlah rumah-rumah, toko-toko, pasar-pasar, pemandian dan kebun-kebun layaknya sebuah ibu kota negara.

Untuk meninggikan syi’ar agama, Ahmad bin Touloun juga mendirikan sebuah masjid yang selesai pembangunannya sekitar tahun 265 H dan kemudian  diberi nama Jami’ Ibnu Touloun.

Maka dengan demikian Qathai’ dan Jami’ Ibn Touloun adalah kota Islam dan masjid jami’ ketiga yang didirikan di Mesir dan tetap menjalankan fungsinya sebagai simbol politik dan agama bagi daulah islamiyah saat itu.

Jami’ Ibn Touloun tercatat sebagai masid tertua di Mesir yang masih bertahan dengan bangunan arsitektur aslinya sampai saat ini, karena bangunan asli Jami’ ‘Amru bin Ash telah mengalami renovasi berkali-kali sementara bangunan asli Jami’ ‘Askar juga tidak berumur lama, karena kota ‘Askar pernah dibumihanguskan semasa khalifah al-Mustanshir Billah (khalifah kelima Dinasti Fathimiyah) karena beberapa faktor dalam negeri sendiri.

Jami’ Ibnu Touloun memiliki empat puluh pintu dan menaranya memiliki jenjang yang berada melingkar di bagian luarnya. Secara umum bangunannya mirip dengan bangunan masjid Samra di Iraq yang dibangun oleh khalifah al-Mu’tashim di zaman Dinasti Abbasiyah.

Sementara itu, ketika Dinasti Ikhsyidiyah menguasai Mesir, mereka tidak mendirikan ibu kota baru bagi Mesir sehingga tidak ada pembangunan masid jami’ pada waktu itu.

* * *

3 pemikiran pada “Sebelum Biduk Jauh ke Lautan

  1. mana gambar bangunan-bangunannya?

  2. oo iya..maaf mungkin nanti akan kami usahakan ada gambar bangunan-bangunannya..:)

  3. Assalamu’alaikum….
    Salam kenal dulu…!
    Btw, boleh ikutan gabung gak nih….?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s