Pendirian Jami’ al-Azhar Dan Kedatangan al-Muiz ke Mesir

Sebagaimana terdahulu bahwa dalam Islam dikenal sebuah tradisi sejak masa Rasulullah saw.yang di masa-masa berikutnya dijadikan salah satu prinsip kehidupan umat dalam bernegara danberagama, yaitu ketika umat Islam berhasil menguasai sebuah daerah maka didirikanlah sebuahkota sebagai simbol kekuasaan dan politik, bersamaan dengan itu didirikan juga sebuah masjidsebagai simbol agama.

Tradisi ini juga berlaku di saat Bani Fathimiyah menguasai Mesir. Berdirinya Kairo atau yangdiawalnya bernama Mansuriyah merupakan isyarat kemenangan sisi politik dan militer BaniFathimiyah atas Abbasiyah. Sedang dari sisi agama, mereka juga mendirikan sebuah masjid jami’ sebagai masjid resmi bagi kota baru mereka, Kairo, dan sebagai pusat perkembangan dakwah agama mereka yang bermazhab Syi’ah.

Pembangunan masjid tersebut baru dimulai setahun pasca berdirinya Kairo, tepatnya pada 24 Jumadil Ula 359 H. (7 Mei 970 M.) dan selesai pada 7 Ramadhan 361 H. (23 Juni 972 M.) sekaligus pada hari tersebut resmi dilaksanakan shalat Jum’at perdana di mesjid baru itu.

* * *

Bangunan Jami’ al-Azhar

Jami’ al-Azhar saat ini masih berada di tempat ia dulu didirikan, walaupun seribu tahun lebih telah berlalu dan telah terjadi beberapa kali penambahan dan perluasan. Bahkan dari segi bangunan, sebenarnya setengah dari bangunan yang ada sekarang tetap mempertahankan model bangunan yang dibangun pada zaman Fathimiyah dulu.

Di zaman fathimiyah, al-Azhar berdiri dengan mengambil posisi di tengah-tengah kota baru mereka, Kairo, dekat Istana Agung Timur (al-qashrul kabir asy-syarqiy) yang berposisi di sebelah barat Masjid Husein sekarang.

Secara garis besar bangunan Jami’ al-Azhar kala itu terdiri dari dua bagian, bagian yang beratap dan bagian yang terbuka. Bagian yang dinaungi atap disebut Maqshurah, sedang yang terbuka disebut Shahn.

Bagian Maqshurah merupakan bagian yang cukup luas, terdiri dari 76 tiang dari batu pualam terbaik berwarna putih. Tiang-tiang itu dibangun bershaf teratur saling berhadapan. Di bagian ini juga dibuat mihrab yang dinamai dengan kiblat lama/tua (al-qiblatul qadimah) Sedangkan bagian shahn Jami’ al-Azhar merupakan sebuah tempat yang luas tidak dinaungi atap dan berlantai batu. Di tempat ini didirikan shalat jika bagian Maqshurah telah dipenuhi jama’ah.

Di depannya terdapat sebuah halaman luas yang konon ketika khalifah-khalifah Fathimiyah berangkat untuk shalat di Jami’ al-Azhar, para tentara dikerahkan dan berbaris di halaman tersebut sampai khalifah masuk.

Bagian lainnya yang juga dibangun ketika itu adalah sebuah menara sebagaimana layaknya masjid-masjid lainnya.

Dan tidak lupa, sebagai kenang-kenangan dan saksi pembangunan mesjid jami’ ini ditulislah sebuah kalimat dengan khat kufi di seputaran kubah di sisi ruaq pertama sampai bagian kanan mihrab dan mimbar, namun sekarang ukiran itu sudah terhapus, tidak ditemukan lagi.

Selanjutnya terus terjadi penambahan-penambahan pada bangunan asli Jami’ al-Azhar oleh khalifah atau amir yang memerintah Mesir pasca khalifah al-Muiz Lidinillah. Seolah-olah mereka ingin menunjukkan bahwa mereka juga punya andil dalam memakmurkan dan menjadikan nama al-Azhar besar.

***

Seputar Penamaan al-Azhar

Ketika didirikan, Jami’ al-Azhar dinamai dengan Jami’ al-Qahirah (Jami’ Kairo) sesuai dengan nama kota tempat ia berdiri.

Nama ini dipakai di sebagian besar masa berkuasanya Dinasti Fathimiyah di Mesir. Pemakaian nama ini dapat dibuktikan secara sejarah, dimana sebagian besar pakar sejarah Mesir menyebut Jami’ ini dengan Jami’ al-Qahirah, hanya sedikit saja dari merka yang tidak menyebutnya demikian. Diantara mereka yang banyak itu adalah al-Musabbihi, Ibnu Thaweir dan Ibnu Makmun.

Sedangkan al-Maqrizi, sejarawan muslim Mesir terbesar, kadang menggunakan nama Jami’ al- Qahirah dan terkadang juga menggunakan nama Jami’ al-Azhar. Kesimpulannya adalah bahwa pada pertengahan abad 9 H. sampai pertengahan abad 15 H. pemakaian dua nama ini menjadi sesuatu yang masih kontroversial, namun kemudian nama lama (Jami’ al-Qahirah) berangsung memudar dan nama baru (Jami’ al-Azhar) lebih banyak dipakai sampai saat ini.

Banyak sekali perbedaan dan pertentangan antara sejarawan muslim mengenai penamaan masjid jami’ ini dengan al-Azhar.

Sebagian mereka berpendapat bahwa kata al-azhar merupakan musytaq (pecahan) dari kata az-zahra, gelar Sayidah Fathimah, putri Rasul saw. dan istri Sayyidina Ali bin Abi Thalib, apalagi Dinasti Fathimiyah sendiri dinisbatkan kepada Sayyidah Fathimah az-Zahra.

Jadi, jika nama negara mereka dinisbatkan kepada Sayyidah Fathimah, maka nama masjid jami’ mereka diambilkan dari gelarnya, az-zahra.

Sebagian kelompok sejarawan lainnya ada yang berpendapat bahwa pengambilan nama al-azhar berkaitan dengan fenomena sosio-kultural yang berhubungan dengan skema kota Kairo sendiri dahulunya. Diriwayatkan bahwa di masa khalifah al-Aziz Billah dimulailah pendirian istana-istana Bani Fathimiyah yang berdiri sangat megah dan indah-indah sehingga waktu itu istana-istana tersebut dinamai al-Qushur az-Zahirah (istana-istana yang bersinar cemerlang).

Istana-stana itu adalah; Istana az-Zamrud, Istana adz-Dzahab, Istana al-Yafi’i, Istana azh-Zhafar, Istana al-Harim, Istana al-Bahr dan Istana al-Lu’lu’ah. Istana terakhir ini dibangun di zaman pemerintahan khliafah ke-7 azh-Zhahir Lii’zazidinillah Abul Hasan Ali (411-427 H/1020-1036 M).
Istana-istana tersebut dahulunya melingkupi masjid jami’ Bani Fathimiyah, sehingga dipakaikanlah nama al-Azhar bagi masjid ini setelah istana-istana tersebut berangsung ditelan zaman sebagai kenangan akan masa-masa yang menyaksikan keemasan Dinasti Fathimiyah.

Kelompok ketiga berpendapat bahwa pemakaian nama al-Azhar adalah sebuah rasa harap dan optimis terhadap sesuatu yang akan dicapai masjid ini nantinya karena berkembangnya ilmu-ilmu di sana dan ia akan tetap menjadi pusat pengembangan dakwah syi’ah sepanjang masa kelak.

Dari ketiga pendapat ini, Prof. Dr. Abdul Aziz Muhammad asy-Syinawi memandang pendapat pertama yang paling kuat.

***

Pasca pembangunan Kairo, Istana Agung Timur, Jami’ al-Azhar, barak-barak militer dan lain sebagainya, mulailah Panglima Jauhar ash-Shiqli berfikir tentang kunjungan khalifah ke wilayah baru mereka tersebut. Surat-surat dikirimkan kepada Khalifah al-Muiz Lidinillah menerangkan tentang rencana kedatangan beliau ke Mesir dan berbagai hal yang telah dilakukan Jauhar di Mesir sejak kedatangan mereka di kawasan tersebut.

Khalifah setuju dengan rencana tersebut dan segera melakukan perjalanan menuju Mesir. Rombongan khalifah ini sampai di wilayah kekuasaan barunya itu pada 7 Ramadhan 326 H/15 Juni 973 M. Ketika memasuki Mesir Khalifah al-Muiz sengaja tidak melintas di dua kota lama Fusthat dan ‘Askar -penduduk kedua kota ini kebanyakan bermazhab Sunni- padahal masyarakat dua kota tersebut telah melakuakan persiapan untuk menyambut kedatangan khalifah, karena mereka yakin rombongan khalifah akan melewati kota mereka, namun beliau langsung menuju ke arah Istana Agung Timur. Di saat kaki Khalifah al-Muiz menginjak istana tersebut, beliau langsung sujud kepada Allah swt. dan melaksanakan shalat dua rakaat. Kemudian khalifahpun berkeinginan untuk menetap di kota tersebut, sehingga seluruh keluarga dan hartanya dipindahkan ke Mesir.

Setalah itu Sang Khalifah memerintahkan penggantian nama kota dari al-Manshuriyah menjadi al-Qahirah (Kairo). Dan masih dalam bulan yang sama beliau juga memerintahkan agar setiap tempat di Kairo dituliskan kalimat berikut: “Orang terbaik setelah Rasulullah saw. adalah Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib ‘alaihissalam”.

Satu hal yang perlu digarisbawahi bahwa sejak kedatangan Khalifah al-Muiz di Mesir, berubahlah status Mesir menjadi dar khilafah (pusat kekhalifahan) dan Kairo menjadi ibu kota kenegaraan bagi Negara Fahtimiyah yang saat itu telah mengokohkan dirinya sebagai negara yang merdeka dan memiliki kekuasaan penuh terhadap wilayah-wilayah di bawahnya.

(bersambung…)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s