ISRA’ MI’RAJ STANDAR KEIMANAN UNTUK KEMENANGAN UMAT

Dalam sebuah riwayat dari Ummu Hani’ (sepupu Rasulullah SAW) disebutkan bahwa Rasulullah SAW tidur di rumah Ummu Hani’ pada malam peristiwa Isra’ dan Mi’raj. Selepas shalat Subuh beliau berkata, “Wahai Ummu Hani’, sungguh aku telah melaksanakan shalat Isya yang terakhir di lembah ini (Makkah) sebagaimana yang engkau saksikan, kemudian aku mengunjungi Baitul Maqdis, lalu shalat di sana, kemudian aku shalat Subuh bersama kalian sebagaimana yang engkau saksikan, lalu Rasulullah bermaksud untuk pergi ke luar, Ummu Hani’pun berkata, “Wahai Nabi Allah jangan engkau ceritakan peristiwa ini pada orang-orang, niscaya mereka akan mendustaimu”, beliau menjawab, “Demi Allah, aku akan meceritakannya pada mereka”. Kemudian beliaupun melakukannya dan orang-orang pun mendustainya.

Riwayat ini memberikan kita informasi tentang efek dari peristiwa Isra’ Mi’raj terhadap dakwah Rasulullah SAW di Makkah. Sebagian mereka yang beriman berbalik arah, kembali pada kekufuran, dan sebagiannya lagi tetap pada keimanan mereka.

Secara kasat mata, tindakan Rasulullah SAW mengambil resiko untuk menceritakan peristiwa tersebut adalah sebuah kesalahan dan kekalahan dalam taktik dakwah, buktinya jumlah mereka yang beriman merosot dan tingkat kepercayaan massa pada beliau juga menurun.
Namun jika ditelaah lebih jauh, dengan melihat runtut sejarah yang dilalui Rasulullah SAW, sikap tersebut justru awal dari kemenangan-kemenangan dakwah itu sendiri, karena ketika itulah jelas siapa mereka yang benar-benar yakin dan kuat imannya dan siapa mereka yang imannya tidak sempurna.

Dari sisi ini dapat dikatakan bahwa peristiwa Isra’ Mi’raj merupakan neraca atau standar kualitas iman pada waktu itu, atau juga bisa sebagai filter iman, sehingga berhasil memisahkan bibit yang baik (orang yang kuat iman) dari bibit yang buruk, untuk seterusnya mereka yang dapat melewati proses standarisasi inilah yang menjadi tonggak-tonggak kokoh penopang dakwah risalah Islam. Ini dapat kita lacak dalam sirah Rasulullah SAW dan sejarah umat Islam pasca Isra’ Mi’raj, bahwa mereka yang mendustai peristiwa ini tidak lagi dikenang sejarah, hanya mereka yang mengakui kebenaran peristiwa ini dengan iman yang diabadikan sejarah sampai saat ini. Lihatlah siapa mereka yang berada di sekitar Rasulullah ketika membina masyarakat Islami di Madinah, siapa yang menyebarkan Islam ke banyak daerah setelah wafat Rasulullah SAw, bukankah mereka yang berhasil melewati proses standarisasi ketika peristiwa Isra’ Mi’raj?

Jadi bisa disimpulkan bahwa peristiwa Isra Mi’raj adalah titik tolak kemenangan risalah Islam sekaligus langkah awal Rasul SAW sebelum melaksanakan hijrah ke Madinah.

Berkaitan dengan hal itu, pelajaran lain yang dapat diambil bahwa lahirnya masyarakat madani dan Islami mesti disokong oleh individu-individu yang punya kualitas iman sekelas Abu Bakar ash-Shiddiq dan rekan-rekannya, artinya berbicara soal masyarakat madani dan Islami mestilah diawali dengan banyak membincang soal pembinaan iman, mental dan nilai-nilai spiritualitas. Bukankah kekacauan yang ada saat ini dirasakan umat Islam lebih banyak disebabkan oleh sikap mental yang lemah, keringnya nilai-nilai spiritualitas dan kualitas iman yang jauh dibawah standar?

Kita bukan ingin mengatakan inilah satu-satunya hal yang harus diperbaiki, akan tetapi mari kita jadikan ini sebagai titik awal yang mesti diberikan porsi lebih jika kita ingin perbaikan ke depan. Wallahu a’lam.

Satu pemikiran pada “ISRA’ MI’RAJ STANDAR KEIMANAN UNTUK KEMENANGAN UMAT

  1. termasuk juga karena masih terkungkung pada pemikiran yang sempit…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s