SUMBER (MASHADIR) ILMU FIQH

Berbicara tentang sumber Ilmu Fiqh berarti kita berbicara tentang sumber-sumber yang dipakai dalam penetapan hukum dalam Islam sendiri, karena Fiqh berkaitan langsung sisi hukum tersebut. Namun pembahasan tentang masalah ini sebenanrnya termasuk kategori pembahasan Ilmu Ushul Fiqh, di sana masalah sumber hukum dibahas secara detail dan terperinci berikut silang pendapat ulama di dalamnya.

Dengan mempertimbangkan hal di atas maka penulis di sini hanya akan membahas materi ini secara global saja.

Secara umum sumber hukum asasi dalam Islam adalah wahyu Allah swt yang kemudian disebut juga nash (teks). Wahyu Allah sendiri bisa dikatergorikan menjadi dua, al-Qur’an dan Sunnah (Hadits Nabi). Al-Qur’an adalah wahyu langsung dari Allah swt yang sudah baku dan tidak bisa diriwayatkan secara makna, bahkan untuk orang sekelas Nabi saw sendiri tidak memiliki hak tersebut. Sedangkan Sunnah adalah wahyu Allah swt yang diilhamkan kepada Nabi Muhammad, sehingga dikatakan makna dan kandungannya dari Allah swt sementara lafaznya dari Nabi Muhammad saw, dan jumhur ulama mengatakan boleh meriwayatkan Sunnah (Hadist) secara makna atau kandungannya saja dengan beberapa adab yang harus diperhatikan di dalamnya

Sementara sumber hukum lainnya merujuk dan memiliki dasar serta kaitan erat dengan dua sumber asasi tersebut, kaitan seperti ini yang dalam Ilmu Ushul dan Fiqh disebut istimdad, dengan kata lain sumber hukum lain selain al-Qur’an dan Sunnah tidak dapat berdiri sendiri atau diakui jika tidak memiliki istimdad ke al-Qur’an dan atau Sunnah..

Sumber hukum non al-Qur’an dan Sunnah itu terbagi dua, pertama: sumber hukum yang disepakati dan diakui oleh seluruh atau sebagian besar ulama (yang lebih dikenal dengan mashadir al-muttafaq ‘alaiha), yaitu Ijma’ dan Qiyas[1], kedua: sumber hukum yang terjadi pertentangan di kalangan ulama dari sisi kepantasannya sebagai sumber hukum dalam Islam (yang lebih dikenal dengan mashadir al-mukhtalaf fiha), seperti Istihsan[2], Mashlahah Mursalah[3], Istishhab[4], Syari’at umat terdahulu, ‘Urf/adat kebiasaan dan lain sebaginya (yang menurut sebagian ulama bisa mencapai lebih dari 40 sumber/dalil).

Perbedaan ulama pada mashadir al-mkhtalaf fiha terjadi karena perbedaan cara pandang terhadap sumber-sumber hukum tersebut, sebagian mereka memandang sumber tersebut hanya berlandaskan akal dan hawa, atau bisa membuka pintu akan dan hawa nafsu, sementara para ulama sepakat bahwa akal dan hawa nafsu tidak bisa dan tidak boleh dijadikan sebagai sumber hukum. Di sisi lain sebagian ulama memandang sumber hukum tersebut bukan demikian adanya, ia juga memiliki istimdad dan landasan kepada al-Qur’an dan Sunnah, atau dengan kata lain golongan terakhir ini hanya memakai sumber-sumber hukum tersebut jika memiliki istimdad dan landasan al-Qur’an dan Sunnah.

Bagaimanapun perbedaan mereka dalam memandang sumber-sumber hukum al-mukhtalaf fiha ini, penulis rasa semuanya bergerak pada satu tujuan yaitu untuk menjaga syari’at Allah ini dari permainan akal dan hawa nafsu, sebab kedua hal itu adalah pintu tahrif/penyelewengan yang paling berbahaya bagi syari’at Tuhan, apalagi jika akan dipakaikan pada sesuatu yang dianggap sebagai ‘sumber hukum’!.

Dan kaedah umum yang dipakai adalah: sumber hukum tersebut hanya bisa dipakai jika tidak ditemukan pertentangan antaranya dengan Nash atau Ijma’, atau tidak ditemukan solusi hukum langsung pada Nash atau Ijma’, artinya jika ditemukan solusi hukum pada dua sumber tersebut, maka sumber hukum al-mukhtalaf fiha gugur dengan sendirinya, karena keduanya lebih kuat.

Penulis rasa sedikit pengenalan seperti ini tidak terlalu kurang, apalagi dengan pertimbangan bahwa pembahasan ini sebenarnya sudah dibakukan ulama di dalam Ilmu Ushul Fiqh, dan bahkan untuk al-Qur’an dan Sunnah/Hadits sudah menjadi disiplin ilmu yang berdiri sendiri saat ini, sehingga permasalahannya sepertinya sangant kompleks.

Untuk beberapa jenis sumber mungkin akan sedikit disinggung nantinya dalam pembahasan tentang mazhab-mazhab dalam Fiqh Islam.


[1] Qiyas yaitu sebuah metode yang digunakan mujtahid dalam menetapkan hukum sebuah permasalahan baru yang tidak memiliki nash dengan mencari titik persamaan yang disebut ilat hukum  pada permasalahan lainnya yang memiliki nash.

[2] Istihsan adalah suatu metode penetapan hukum dimana mujtahid lebih memilih untuk memakai sesuatu yang bertentangan dengan qiyas daripada memakai qiyas itu sendiri karena ada alasan yang kuat, seperti kemaslahatan dan sebagainya, atau dengan bahasa lain meniggalkan qiyas dan memakai yang menyalahi qiyas tersebut karena ada pertimbangan lain yang lebih kuat.

[3] Mashlahah Mursalah yaitu metode penetapan hukum yang berpatokan kepada pemeliharaan maslahat dan penolakan terhadap segala jenis kerusakan (jalb al-mashlahah wa daf’u al-mafsadah), Mashlahah Mursalah dikenal juga dalam istilah lainnya dengan Istishlah atau Munasabah.

[4] Istishhab adalah membiarkan/tetap memakai hukum asal (masalah yang lampau) yang memiliki dasar nash sampai ditemukan dalil bahwa hukum tersebut telah berubah. Dengan catatan bahwa metode ini hanya digunakan jika tidak ditemukan dalil/metode lain dalam penetapan hukum.

2 pemikiran pada “SUMBER (MASHADIR) ILMU FIQH

  1. duh gw musti belajar banyak lagi ni abs

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s