The Spirit of Dzulhijjah

Memasuki bulan zul hijjah kita kembali diingatkan dengan sebuah ritual ibadah yang merupakan salah satu pilar syi’ar islam, yaitu ibadah haji dan qurban. Dengan menilik sejarah akan kita temukan bahwa ritual haji dan qurban adalah salah satu bukti keterikatan ajaran Islam dengan ajaran para nabi terdahulu, khususnya ajaran Nabi Ibrahim, bahkan kedekatan antara ajaran Islam yang dibawa Nabi Muhammad saw dengan Nabi Ibrahim ini sangat kental disebutkan di dalam Al-Qur’an maupun Hadits, yaitu dengan memberikan sebuah sebutan khusus bagi Nabi Ibrahim yaitu “abikum”, “bapak kalian”, maksudnya bapak kaum muslimin, lihatlah pada QS al-Hajj (22) ayat 78, bahkan disebutkan dalam ayat tersebut bahwa nabi Ibrahimlah yang menamakan kita umat akhir zaman ini dengan sebutan “muslimin”. dan jika kita periksa dan cermati al-Qur’an maka kita akan menemukan bahwa diantara para Nabi, yang banyak memakai istilah “muslim” adalah Nabi Ibrahim.

Sedemikian dekatnya hubungan ini sehingga di dalam al-Qur’an kita selaku umat Islam berkali-kali diingatkan untuk mencontoh dan mengikuti ajaran nabi Ibrahim yang hanif (lurus) yaitu ajaran tauhid, ajaran yang mengesakan Allah (Lihat QS Ali Imran (3): 95, QS an-NIsa’ (4): 125, QS an-Nahl (16): 123), padahal ajaran tauhid bukan dibawa oleh nabi Ibrahim saja, tapi oleh semua nabi dan rasul yang diutus (lihat QS al-A’raf (7): 59, 65, 73 dan 85,QS an-Nahl (16): 36).

Yang lebih hebatnya lagi ajaran Ibrahim as. tersebut selalu disebutkan dalam al-Qur’an dengan sifat “hanif”, “lurus”. Hanif merupakan sebuah sifat yang khusus diberikan kepada Nabi Ibrahim karena kesucian dan kelurusan beliau dalam berakidah dan beriman hanya kepada Allah SWT saja. Keimanan yang bukan hanya sebuah doktrin yang harus diterima tanpa pertimbangan akal, keimanan yang bukan hanya letupan-letupan kekuatan spiritual dihati tanpa pembuktian yang nyata, namun keimanan beliau yang hanif itu adalah keimanan yang merupakan kolaborasi dan keseimbangan kekuatan bisikan fitrah naluri seorang hamba (QS Ar-Rum: 30) yang diiringi dengan rasionalitas dan pembuktian fitrah itu (Al-An’am 74-78). Dan beliau juga telah mengajarkan kita bahwa dengan metode beginilah seseorang akan mendapatkan hidayah dan mampu mempertahankan hidayah itu dengan hanif (QS al-An’am: 79-81).

Inilah inti dari semua sikap atau suri tauladan yang ditinggalkan Nabi Ibrahim bagi anak cucunya, kaum muslimin, agar mereka menjadi umat yang hanif dalam berakidah, ikhlas dalam beribadah hanya kepada Allah SWT.

Berbekal kedua hal inilah beliau bersama rela dan tawakkal meninggalkan istri dan anaknya di sebuah daerah yang tidak ada tanda-tanda kehidupan, namun kemudian daerah itu menjadi tempat yang tentram dan diberkati Allah SWT. Dengan kekuatan dua hal itu pula beliau bersama putranya, Ismail, membangun baitullah, Ka’bah. Dan dengan kokohnya dua hal tadi, kita menyaksikan bagaimana pengorbanan Ibrahim dan Ismail ketika Allah mengujinya dengan perintah menyembelih sang putra tercinta.

Maka ketika keimanan kita goyah, keikhlasan memudar karena kehidupan duniawi, marilah kembali kita membaca dan menelaah kisah-kisah Ibrahim, bukankah Nabi Muhammad diutus ketika keimanan manusia ketika itu sedang goyah dan kehidupan dunia mulai merajai, lalu kemudian Allah turunkan kepada beliau al-Qur’an yang di dalamnya banyak keteladanan Ibrahim sebagai pegangan dalam meluruskan kembali keimanan dan keikhlasan dalam berdakwah?, mengapa kita tidak memaknai hal ini?

Semoga saja dengan kembali menelusuri jejak napak tilas bapak kita, Ibrahim as, kita dapat menemukan kembali fitrah kita sebagai seorang muslim yang hanif, yang hanya memiliki keseimbangan iman dan keikhlasan yang benar dalam beribadah kepada-Nya. Inilah dia the spirit of zul hijjah..!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s