Merenungi Gempa di Awal Ramadhan

Berbagi informasi dan cerita merupakan sebuah keindahan tersendiri, terlebih lagi jika iman sedang terasa dalam kondisi lebih baik, beragam hal bisa terungkap dan bahkan bisa juga menelurkan sesuatu hal positif berupa ide atau gagasan ke depan yang mencerahkan.

Hari ini itu lah yang telah saya alami, berbagi informasi dsan sharing dengan seorang teman tentang kondisi terakhir Padang yang baru saja diterpa gempa besar pada hari Rabu dan Kamis yang lalu.

Gempa itu ternyata melumpuhkan kota Padang, banyak fasilitas umum roboh, aktifitas harian ibu kota terhenti, masyarakat panik dan takut akan terjadi tsunami, semua bergerak ke luar rumah dan menuju bukit-bukit. Demikian sekilas gambaran yang bisa ditangkap seputar kondisi gempa. Satu hal yang perlu digarisbawahi adalah, gempa ini terjadi sebelum umat Islam memasuki bulan suci Ramadhan. Ada apa ini? mengapa musibah ini datang pas sebelum Ramadhan? tidakkah cukup musibah yang lalu sebagai peringatan?, seorang yang beriman mestilah mempertanyakan hal itu pada dirinya, bukan karena takut mati, bukan juga karena percaya tahayul, tapi untuk introspeksi diri!.

Sudah tidak saatnya lagi hari ini kita mengatakan ini hanya sekedar gejala alam, itu gejala alam memang benar, tapi bukankah gejala alam juga ada sebabnya, jika hanya berhenti pada kesimpulan bahwa musibah hanya sebuah gejala alam, hati-hatilah kita sedang terjebak pola fikir kaum pagan, kaum penyembah alam yang menempatkan kekuasaan terbesar terdapat pada alam, alamlah Tuhan!, atau juga bisa jadi pola fikir kaum atheis, yang menafikan kekuasaan Tuhan atas alam semesta ini.
Dalam pola fikir seorang muslim seharusnya tersusun bahwa musibah ini adalah gejala alam, dan gejala alam itu terjadi karena kekuasaan dsan takdir Allah, Allah lah yang menjadikan gempa itu terjadi di sekitar Sumatera Barat, Allah lah yang telah mentakdirkan bahwa diantara musibah itu juga terjadi karena ulah tangan manusia yang jahil (Ar-Rum: 41), Allah juga yang mentakdirkan bahwa diantara musibah bukan hanya ditimpakan pada mereka yang berbuat salah saja tapi juga mereka yang beriman namun diam terhadap kemungkaran (Al-Anfal:25). Dan selanjutnya seorang muslim juga harus berfikir untuk memperbaiki diri, keluarga dan masyarakat. Dimulai dari perbaikan sisi spiritual dan selanjutnya melangkah pada sisi material, mengapa demikian? bagaimana bisa membangun materi jika jiwa-jiwa masih kosong dan selalu dihantui rasa takut, cemas, pesismis, penyesalan tak berujung, shock, dan penyakit kejiwaan lainnya?, jiwa-jiwa seperti ini hanya akan menjadikan korban musibah terbengkalai, kalaupun akan melakukan perbaikan akan terjadi penyelewengan dan tidak tepat sasaran. Hanya mereka yang memiliki jiwa tegar, sabar, ikhlas, optimis dengan rahmat Allah, serta ruhiyah prima yang bisa berfikir jernih dan melangkah untuk sebuah perbaikan materi yang tepat, sehingga tidak terjadi pemotongan bantuan, tidak lagi membangun materi yang membawa kepada kemurkaan Allah dan seterusnya.

Kita tidak tahu kapan musibah ini berakhir total, hanya Dia yang tahu, hanya Dia yang mampu menghentikan gejala alam ini bahkan meskipun para pakar akan memperkirakan tanah kita ini akan terhapus dari peta dunia. Oleh karena itu mengapa kita tidak menjadi seorang hamba yang patuh? bukankah seorang hamba dimarahi tuannya karena kelalaiannya? mengapa kita tidak membuat Tuan (baca-Tuhan) kita merasa senang dengan pekerjaan yang kita lakukan? sehingga rahmat dan kasih sayang-Nya akan dengan mudah mengalir bagi kita, tidak yakinkah kita akan firman-Nya:

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, Pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami) itu, Maka kami siksa mereka disebabkan perbuatannya” (QS. Al-A’raf: 96).

Keyakinan yang dituntut bukanlah keyakinan sesaat, melainkan keyakinan yang kuat dan terus kokoh, keyakinan yang diikuti kesabaran dalam meyakini hal tersebut, inilah dia hakikat keimanan pada Allah.

Ya Allah, jadikanlah kami penduduk negeri yang beriman pada-Mu
Ya Allah, jadikanlah kami penduduk negeri yang bertakwa pada-Mu
Ya Allah, berilah kepada kami kecintaan terhadap hal-hal yang Engkau cintai
Ya Allah, tuntunlah kami kepada hal-hal yang Engkau ridhai bukan yang Engkau murkai
Ya Allah, berikanlah pada kami kenikmatan beribadah kepada-Mu
Ya Allah, jadikanlah Ramadhan ini momentum awal kebangkitan kami sebagaimana engkau jadikan ia awal segala kebaikan bagi umat yang terdahulu

(Kairo, 15 Sept. ’07)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s