H A L T E

Terduduk ku di sebuah bangku, tepatnya di sebuah perhentian bis, setengah jam menunggu bis menuju Bu’uts, tujuanku, yang tak kunjung melintas, bayangannya pun tidak.

Dalam penantianku yang tak menentu ini ku ambil buku coretan dari dalam tas berikut sebuah pena tinta biru yang tak pernah absen menemani perjalananku. Seseuatu berkelit dalam pikiranku, segera kutulis…..

Dunia memang tak lebih dari sebuah halte/terminal perhentian bus. Puluhan bahkan ratusan orang tiap harinya mangkal di tempat ini, hanya untuk menunggu dan menanti, ya… hanya untuk sebuh penantian, tak lebih, dan aku adalah salah seorang dari mereka. Panas, dingin, hujan, terik mentari ternyata tak mampu memalingkan mereka dari tempat itu. Padahal yang ditunggu hanya sebuah bis, ya…setiap orang hanya menunggu sebuah bis, tak pernah ada orang yang menunggu dua bis yang berbeda trayek, dan ia hanya akan menaiki bis yang satu itu, karena setiap orang hanya punya satu tujuan, kalaupun ada yang punya dua tujuan pastilah ia akan kelihatan seperti orang kebingungan, bingung akan menanti bus yang mana, karena belum jelas yang akan dituju.

Masa menunggu tiap orang pun berbeda-beda, ada yang hanya butuh waktu 1 sampai 2 jam hanya menunggu, ada juga yang setengah jam, lima menit, bahkan ada yang lebih cepat pas dia sampai diterminal langsung menemukan bis yang akan menghantarkannya ke tujuan. Tapi berapapun lamanya waktu menunggu itu yang pasti semua orang yang berdiri menanti itu pasti akan berlalu meninggalkan tempat ini.

Ekspresi tiap-tiap orang juga berbeda. Ada ratusan bahkan ribuan ekspresi yang bisa kita temukan ditempat yang sederhana ini. Satu orang bisa memiliki lebih dari tiga ekspresi. Mungkin di samping kiri ada yang sedang membaca, mengisi masa penantiannya dan di kanan sedang merokok, di belakang mungkin sedang ngobrol dengan orang terdekatnya, ada juga yang sabar berdiri tak beraktifitas, di sudut sana ada yang sibuk dengan jam yang melilit pergelangan kirinya, sepertinya ia sudah hamper telat ke tempat kerja, pelajar itu tak jauh beda dengan orang kantoran barusan, tidak sabar menunggu bis yang akan mengantarkannya ke tujuan. Ketika sebuah bis datang, mereka rame-rame berdesak-desakan, kadang sampai marahan segala. Kepergian mereka tidak menjadikan halte ini lengang begitu saja, segera beberapa orang lagi dating menggantikan posisi-posisi mereka yang telah berangkat. Seolah tak ada habisnya manusia-manusia itu bolak balik, naik turun bis, mengisi dan meninggalkan halte ini.

Demikianlah dunia, ribuan bahkan jutaan orang terlahir, dan tak bosan-bosan makhluk manusia ini muncul ke dunia ini. Ribuan orang yang terlahir ini merupakan pengganti mereka-mereka yang telah berangkat bersama bis maut menuju kampung akhirat.

Seperti halte tadi, setiap orang yang menghampiri dunia ini mestilah akan pergi meninggalkannya, bagaimanapun kondisinya di dunia ini, kaya maupun miskin, kuli ataupun pejabat, lelaki atau perempuan, besar atau kecil, semua akan pergi meniggalkan halte dunia yang sesaat ini digiring bis kematian.

Dunia hanya tempat singgah sesaat untuk menuju tempat tujuan yang lebih penting, karena kalau tidak penting untuk apa orang-orang itu mau berlama-lama datang dan menunggu di halte ini. Tujuan itu tak lain dan tidak bukan adalah kampung akhirat yang lebih luas dari dunia ini. Di kampung itu mereka akan memilih lagi tempat mana yang akan mereka jadikan sebagai tempat tujuan akhir langkah kaki. Apakah neraka atau surga. Terlepas dari segala perbedaan ahli agama, neraka dan surga juga memiliki tingkatan-tingkatan, yang menjadikan manusia juga harus memilih di “distrik/daerah” mana mereka akan tinggal untuk selamanya.

Beruntunglah bagi mereka yang ketika berada pada saat penantian bis maut di halte dunia selalu melakukan hal-hal yang bermanfaat yang menyebabkan mereka menempati distrik terbaik yang tersedia, namun alangkah sedihnya bagi mereka yang selama di halte dunia terlena dengan kondisi sekitar dan tidak berbuat apa-apa atau bahkan berbuat sesuatu yang justru membuat ia nantinya tercampak ke ‘distrik setan’, neraka.
Makanya dari sekarang haruslah kita semua sadari tempat apakah yang akan menjadi tujuan kita dan apa yang telah kita siapkan dan kita lakukan untuk menuju tujuan itu? Sudahkah kita menyiapkan bekal secukupnya? Atau apakah bekal yang ada sekarang ini sudah bisa menjamin kita akan sampai ke tujuan itu?

Sesungguhnya tujuan itu telah di siapkan Allah dengan segala isinya untuk kita tempati, tinggal kita mau membeli tiket kemana

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s