Oh…Budaya Bangsa 3: Keseimbangan Budaya=Keseimbangan Iman

Bagaimanapun kita mendefenisikan budaya, semuanya akan mengarah kepada satu poin yaitu pandangan atau pola hidup. Maka berbicara tentang budaya adalah berbicara tentang hidup dan kehidupan, tepatnya bagaimana kita hidup dan berkehidupan.

Berangkat dari sinilah kita akan bisa memaknai arti keseimbangan dalam berbudaya.

Keseimbangan itu sendiri selalu dituntut dalam segala hal, kehidupan inipun diciptakan dan terus ada dengan prinsip keseimbangan, ketika keseimbangan itu goyang atau lebih naif lagi hilang, maka kehidupan pun mulai bergeser dan sedang menuju sebuah kehancuran.

Demikian juga halnya dengan budaya, budaya yang bisa menyeimbangkan segala sisi-sisi kehidupan adalah budaya yang akan terus bisa bertahan di dunia ini, sebaliknya budaya yang mengabaikan banyak sisi kehidupan akan dengan mudah hilang dari permukaan bumi ini.

Sedangkan tonggak utama kehidupan itu adalah keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa, Tuhan yang tidak ada Tuhan selain Dia, Allah SWT. Hanya orang yang bisa menjaga kestabilan iman yang bisa menjaga keseimbangan dalam kehidupan ini. Karena orang yang seimbang (stabil) imannya selalu berfikir bahwa dirinya adalah hamba Tuhan yang mesti selalu menjaga sunnah (ketetapan) Tuhan di alam ini agar kehidupan ini menjadi damai dan indah. Jika ia seorang praktisi ekonomi ia tidak akan memakan riba karena ia tahu Tuhan telah menetapkan bahwa riba akan menyebabkan banyak kerusakan dalam tatanan ekonomi dan masyarakat. Jika ia seorang ilmuwan ia akan menggunakan ilmunya untuk menjaga keseimbangan ekosistem dan kemajuan dengan memperhatikan sunnah Tuhan yang ada di alam. Jika ia seorang politikus ia akan berusaha menjaga agar hukum yang berlaku tidak bertentangan dengan hukum dan sunnah Tuhan di alam, dan seterusnya.
Keimanan inilah yang akan menjadikan seseorang berpikir dalam bertindak dan tidak ceroboh, sehingga keseimbangan itu lebih mudah untuk diwujudkan.

Lihatlah budaya umat yang telah lenyap dari permukaan bumi, rata-rata mereka adalah umat-umat yang tidak mengakui dan tidak mau beriman dengan sempurna kepada Allah SWT. Umat Nabi Nuh, dihancurkan karena mereka menentang mentah-mentah konsep keimanan yang ditawarkan Allah melalui Nabi Nuh a.s.
Satu umat gagal dalam menciptakan stabilitas iman, jangankan untuk itu, untuk sekedar menerima konsep keimanan saja mereka enggan, maka kehancuran mereka adalah sesuatu yang pantas, karena bagaimana tugas menjaga alam ini bisa mereka pegang sedang hal asasi itu mereka tentang?.
Demikian juga halnya dengan bangsa ‘Ad (kaum Nabi Hud), bangsa Tsamud (kaum Nabi Shalih) dan kaum Nabi Luth. Mereka semua dihancurkan karena membudayakan hal-hal yang bertentangan dengan aturan Tuhan dan menolak untuk membudayakan aturan Tuhan yang berpangkal pada konsep keimanan.

Tidak jauh-jauh, kita semua pasti tahu bangsa Persia kuno dan Romawi, yang membuat kerusakan di muka bumi dengan melancarkan peperangan dan perbudakan terhadap bangsa lain, mereka hancur ditangan orang-orang yang memiliki budaya yang bersumber dari stabilitas iman yang tangguh, umat Islam.

Atau ketika keseimbangan iman umat Islam goyah yang berujung dengan runtuhnya khilafah islamiyah, umat Islam mundur dan tertidur, serta merta budaya dan aturan lain mengambil kesempatan dan berebut kekuasaan di dunia, sehingga menyebabkan perang besar (perang dunia I dan II).

Soviet dengan Komunis-Atheisnya merasa bisa menggantikan posisi umat Islam, tapi mereka juga hancur, budaya anti-Tuhan mereka ditentang habis-habisan bukan saja oleh umat Islam, tapi juga Yahudi dan Nasrani.

Kemudian Amerika dengan Krinsten-Liberal mencoba menggantikan Soviet, proyek globalisasi disebar, mengumbar perdamaian, membudayakan kebebasan hak individu. Sebenarnya mereka tidak jauh beda dengan Soviet, hanya beda tipis, dunia justru sekarang berada di ambang kerusakan, kehancuran dan peperangan berkepanjangan. Mengapa? Ada apa? Apa yang kurang dari Amerika saat ini? kita semua tahu kekuatan dunia mereka yang menguasai, teknologi dan ilmu pengetahuan mereka yang memegang kendali, budaya yang paling digandungri seantero dunia mereka yang miliki, lalu mengapa kehancuran yang banyak terjadi di dunia belakangan ini?. Hanya satu yang kurang, mereka tidak menjalankan konsep keseimbangan Iman sebagaimana Islam. Mereka mencampakkan konsep keimanan jauh-jauh dari kehidupan duniawi. Sehingga kekuatan mereka tidak terkendali, teknologi yang dikembangkan Amerika adalah teknologi pemusnah ekosistem alam bukan penjaga alam, budaya mereka justru menimbulkan masalah mental dan sosial.

Belajar dari itu semua, maka selaku manusia yang dianugerahi akal fikiran, konsep keseimbangan yang harus dikembangkan pertama kali adalah keseimbangan (stabilitas) Iman.

Ibarat sebuah bangunan yang kokoh, mestilah memiliki pondasi yang kuat juga, sehebat apapun, sekuat apapun bahan bangunan itu jika pondasinya lemah bangunan itu lambat laun akan hancur juga. Budaya dan kehidupan juga demikian, sehebat apapun produk-produk budaya yang dilahirkan suatu komunitas masyarakat (baca: bangsa) lambat laun akan pudar dan hancur jika asas dan pondasinya keropos, sedang pondasi budaya itu terwujud pada nilai-nilai luhur yang menginduk pada Iman dan keyakinan yang menghunjam kuat di jiwa.

Jadi, hanya dengan keseimbangan dan stabilitaslah kehidupan ini menjadi indah, tentram dan damai, sedangkan pokok dasar dari kehidupan yang harus dijaga keseimbangan dan stabilitasnya itu adalah IMAN. Selanjutnya jika kita ingin hidup dan berbudaya, hidup dan berbudayalah dengan pijakan Iman.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s