Ahlal Hilm

Santai ku melangkah menuju halte. Seorang anak sibuk mondar mandir di sekitar halte itu, menghampiri semua orang yang ada di sana sambil sat tangannya diisyaratkan kemulutnya dan satu lagi menengadah ke arah yang dimaksud. Wajah ceria meski kumal membuat tidak sedikit yang prihatin dan menyisishkan 50 piester bahkan satu pound untuknya. Lagian dia tidak memaksa, jika tidak diberi ia segera beralih ke orang lain.

Akupun tidak luput dari aksinya siang itu. Kusisipkan kedalam tangan mungilnya uang satu pound-an dan ia segera berpaling.

Kuperhatikan terus ia beraksi sambil tersenyum, dan bukan aku saja rata-rata orang di sekelilingpun menyaksikannya dengan senyum. Aku heran mengapa kami bisa kompak tersenyum memandangi anak kecil itu.
Yaa..kepolosannya itu yang telah membuat orang simpati meski wajahnya kumal dan pakaiannya kumuh.

Sesaat ku termenung iba menyaksikan anak kecil yang masih belum bisa menghapus ingus yang sekali-kali mengalir dari hidungnya itu. Di mana orang tuanya? dimana saudara-saudaranya?. Terbersit dihatiku seandainya disini ada Umar bin Khattab pasti tidak akan ada anak2 terlantar seperti anak tersebut, kuberpikir mengapa tidak aku saja yang jadi umar saat ini.

Ketika kesadaran itu mulai mencuat anak itu hilang entah kemana, ku sedih padahal aku ingin sekali bercakap dengannya. Kesedihanku dihimpit bis 65 yang sesaat lewat, tanpa banyak ba bi bu kunaik berebut naik , tak lama kuberdiri, dua orang yang duduk di depanku turun dan aku dapat kesempatan duduk dikursi itu.

Di jalan wajah anak itu kembali membayangi pikiranku.
Ku berpikir, seandainya aku bisa tahu nama anak itu akan aku jadikan ia adik angkatku. akan ku berikan ia pakaian yang lebih pantas, bukankah dikamar aku dititip beberapa stel pakaian bekas?, atau aku akan sisihkan makanan utk nya, apalagi selama ini banyak sekali keju dan manisan yang tersisa dan terbuang di asrama, atau aku sisihkan separo makan siang ku untuknya. Ah…indahnya jika itu bisa terjadi. Kubayangkan renyah tawanya di sampingku di saat-saat keakraban seperti itu terwujud. Bagaimana jika aku pulang tidak kuliah disini lagi? Ahh…biar kutitip saja ia pada kawan-kawan yang masih disini. Sekejap ku membayangkan juga bagaimana kesedihan yang akan menyelimuti kami di saat perpisahan.

Lama ku menghayal dan tersentak, aku sudah berada di distrik sadis(6), aduh sayang sekali ini hanya hayalan.
Tapi bukankah anak jalanan masih banyak, di sini maupun di negeriku?, sepertinya hayalan ini masih bisa terwujud, ku hanya berdo’a pada Tuhan semoga hayalan ini tidak hilang begitu saja dari kepalaku.
Dan kuyakin hayalan ini susah untuk ku lupakan, karena hayalan itu yang mengajarkan ku berbuat baik kepada sesama, berbagi pada yang tidak mampu, tidak menghardik anak-anak jalanan. ya begitulah aku membuat hayalan itu terus bermain dalam otakku dan terus memotivasiku untuk beramal.

–Hamba Allah–
Kairo-Ahad 5 Februari 2006

Satu pemikiran pada “Ahlal Hilm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s