Oh..Budaya Bangsa (1)

Untuk yang kesekian kalinya saya memutar kembali konser Siti Nurhaliza yang diselenggarakan di Royal Albert Hall, London, pada April 2005 yang lalu. Disetiap kali itulah saya merasakan dan menemukan kembali jati diri melayu pada diri saya, merasakan kebanggaan sebagai bagian dari rumpun melayu, tentunya ini suatu kewajaran dan merupakan fitrah. Namun sesaat kemudian saya terhenyak, ternyata yang membangkitkan rasa itu adalah seorang Malaysia, bukan anak Indonesia. Dan berturut-turut diri saya bertanya, mengapa tidak ada artis terkenal Indonesia yang melakukan hal yang serupa dengan Ncik Siti? mengapa tidak ada mereka yang dengan ketenarannya juga berusaha mengangkat budaya asli bangsa?, tidak mesti itu budaya melayu, mungkin juga budaya jawa, sunda, batak, aceh, bugis dan sebagainya, tapi itu tidak ada!.

Mungkin kita terlalu sibuk dengan urusan politik atau ekonomi, sehingga kita melupakan perhatian budaya bangsa. Padahal budaya adalah wujud nyata jati diri kita sebagai sebuah bangsa. Semua kita tahu bahwa budaya merupakan salah satu identitas sebuah bangsa, dan ketika sebuah bangsa melupakan dan meninggalkan budayanya dan bahkan berobah terpengaruh dengan budaya luar, itu berarti bangsa tersebut sedang ‘berusaha’ menanggalkan identitas pribadinya.

Makanya untuk mengukur sejauhmana bangsa kita memperhatikan identitas dan jati dirinya, kita gunakan saja alat ukur budaya, jangan kita ukurkan alat itu pada generasi tua, ukurkan ia pada generasi muda, sebanyak apa gengerasi muda kita yang mengenal atau yang berusaha mengenal budaya bangsanya, budaya daerahnya?
kemudiandiantara yang sudah mengenal itu seberapa banyak pula mereka yang berusaha mempertahankannya dan mengembangkannya?.

Mengapa generasi muda?, sebab pada merekalah tanggungjawab masa depan bangsa disematkan, tanggungjawab membawa bangsa ini dihargai dan dihormati di tengah-tengah perang budaya dewasa ini.

Banyak sekali memang pertanyaan-pertanyaan yang akan muncul jika kita menyoal sikap bangsa kita, bangsa Indonesia, terhadap budayanya, budaya bangsa dari segala segi kehidupan yang disentuhnya, baik itu budaya norma, moral dan adat, maupun seni dan kreatifitas, atau sebagainya.

Dan jika kita berusaha menjawab soalan-soalan itu, kita akhirnya hanya akan bertemu dengan kekaburan, karena memang budaya bangsa kita sekarang sudah kabur, kabur karena ditutupi debu-debu budaya asing yang melanda deras.
Maka untuk menjawab problematika budaya, kita mestilah terlebih dahulu menghapuskan dan membersihkan debu-debu yang menghinggapi cermin budaya bangsa kita ini, jika cermin itu sudah mulai bisa merefleksikan sosok di depannya, maka dengan sendirinya sosok itu akan bisa mengenal siapa dirinya dan kemudian bisa merasakan faedah cermin tersebut. Maka di saat itulah sosok itu akan berusaha menjaga cermin itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s