Islam Dan Ilmu

Islam sejak munculnya ke dunia selalu meletakkan ilmu sebagai salah satu pondasi pokok agama. Konsep Islam dalam berakidah adalah konsep menggabungkan ilmu dan keyakinan, bukan sekedar keyakinan dari hati saja yang menjadi pembenar akidah, karena hati boleh jadi dimasuki hasutan-hasutan syeitan, namun keyakinan hati seorang mukmin haruslah diikuti dengan ilmu tentang apa yang diyakininya tersebut.

Demikian juga sebagaimana yang terjadi pada peristiwa penurunan wahyu pertama kepada Rasul Saw, QS. al-‘Alaq ayat 1-5, wahyu pertama itu berisi perintah untuk membaca. Tidak sekedar itu, jika diperhatikan 5 ayat tersebut jelas sekali bagaimana Allah Swt ketika menurunkan ayat tersebut sedang melakukan suatu proses tarbiyah dan pengajaran kepada Rasulullah Saw -dan otomatis juga pada umatnya-. Dari ayat tersebut bisa ditangkap bahwa Allah Swt mengajarkan beberapa hal:

1. Hal pertama yang harus mendapatkan perhatian adalah bagaimana agar kita sadar pentingnya ‘membaca’, baik itu membaca yang tersurat maupun yang tersirat. dan membaca yang tersirat tidak akan sempurna jika tidak banyak membaca dan menelaah yang tersurat.

2. Bacaan yang paling utama dibaca adalah al-Qur’an, demikian ulama-ulama tafsir ketika menafsirkan kata “iqra'”.

3. Bagaimana membaca? “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan”. Ini suatu pengajaran bahwa sebelum membaca al-Qur’an mintalah pertolongan kepada Allah dengan menyebut nama-Nya, karena al-Qur’an bukanlah kitab biasa, membacanya butuh kekuatan, baik itu kekuatan ruh, kekuatan bahasa dan lisan, kekuatan pemahaman, dan lain sebagainya. karena jika tidak demikian tidaklah ada gunanya proses ‘membaca’ yang dilakukan. Tidak terbatas pada al-Qur’an saja, membaca kitab/buku apapun yang bermanfaat seharusnya memang didahului dengan nama Allah, karena ilmu adalah hal yang berat untuk dipikul, tidakkah kita mendapati diri kita sendiri sering mudah lupa dan tidak mencurahkan perhatian penuh pada apa yang sedang dan telah kita baca? maka hanya dengan pertolongan Allah lah semua kekurangan itu bisa diatasi.

4. Hal pertama yang diperkenalkan Allah tentang diri-Nya pada ayat tersebut adalah bahwa Dia-lah rabb, Dialah satu-satunya Tuhan yang menciptakan segala sesuatu, yang mengatur segala ciptaan-Nya itu. Kemudian Dia mengkhususkan pada ayat ini tentang satu sisi ciptaan-Nya yaitu manusia, makhluk yang sedang Dia ajarkan ini, Dia menyebutkan bahwa makhluk itu diciptakan dari segumpal darah. Coba kita perhatikan, di awal Allah memperkenalkan diri-Nya dan berlanjut dengan memperkenalkan sekaligus mengajak manusia untuk mengenal penciptaannya dari segumpal darah, dari satu sisi ini menunjukkan luasnya ilmu Allah dan dari sisi lain inilah ilmu itu! adakah pada saat itu manusia yang sudah mengetahuinya selain Nabi Muhammad dan umat Islam?

5. Dalam ayat tersebut Allah memperkenalkan diri sekaligus mengenalkan manusia tentang dirinya, ini merupakan pelajaran lainnya, suatu metode berinteraksi dengan orang lain, agar orang tersebut cepat tertarik dengan diri kita, yaitu dengan berusaha mengenalnya sebelum berkenalan secara langsung.

6. Setelah mengenalkan diri-Nya sebagai Tuhan Pencipta, Allah Swt melanjutkan dengan mengenalkan bahwa diri-Nyalah yang paling mulia, yang kemuliaan-Nya terlihat dengan bagaimana Dia mengajarkankan manusia melalui perantaraan ‘al-qalam’/pena, dan mengajarkannya segala sesuatu yang tidak diketahuinya. Dia tidak mengatakan kemuliaannya dengan memberikan rizki, tidak dengan memberi kehidupan, melainkan dengan ta’lim, pengajaran!. Dan dengan kata ta’lim inilah Allah menutup wahyu pertamanya, dan telah kita ketahui bahwa ta’lim tersebut telah dimulai dari awal ayat bukan di akhir saja! maka penguncian wahyu pertama ini dengan kata ta’lim merupakan penegasan bagi orang-orang yang bisa ‘membaca’ 5 ayat ini bahwa ta’lim atau pengajaran atau proses menuntut ilmu adalah suatu hal yang ditekankan dalam Islam dan berada pada posisi teratas.

Itu yang dapat kita tangkap dari wahyu pertama. Dari sisi praktek beragama, kita menemukan bahwa yang mendapat taklif/pembebanan dalam melaksanakan syari’at adalah mereka yang telah memiliki ilmu dan mengetahui syari’at itu, makanya dalam Islam anak kecil yang belum baligh, orang lupa dan orang gila tidak dikenakan taklif, demikian juga dengan orang yang tidak tahu apa-apa atau belum sampai kepadanya dakwah Islam. Maka bisa dikatakan agama Islam adalah diperuntukkan bagi orang yang berakal dan yang mempergunakan akal saja, karena dari merekalah diharapkan agama yang berisi maklumat dan ilmu ini bisa dijalankan. Satu yang perlu digarisbawahi bahwa berakal bukan berarti harus pintar dan orang bodoh tidak berakal, betapa banyak orang yang pintar tapi akalnya tidak bisa menerima kebenaran Islam yang bisa dengan mudah diterima oleh orang-orang yang kadang kita kategorikan “bodoh” atau “biasa-biasa saja”? maka siapakah menurut anda yang berakal?
Dalam perjalanan sejarahpun, hubungan Islam dan Ilmu/ta’lim selalu berjalan seiringan. Masa Rasul Saw hidup, segala perbuatan, perkataan dan ketetapannya adalah ilmu dan ta’lim. Yang tersurat dapat kita temukan dalam sunnah qauliyah/perkataan beliau yang banyak memotivasi umatnya untuk terus belajar dan mengajarkan ilmu yang didapat, yang tersirat dapat kita temukan juga dalam praktek keseharian Rasul yang tidak bisa dilepaskan dari proses tarbiyah/pendidikan dan pengajaran umatnya. Tidak ada ditemukan perkataan dan perbuatan Rasul yang tidak berisi ilmu dan ta’lim, tidak ada yang sia-sia!. Makanya Rasulullah Saw memang orang yang pantas dijadikan ‘uswatun hasanah’!.

Pada masa Rasul, ilmu yang banyak dipelajari adalah ilmu agama/ulumuddin, karena masa itu adalah masa awal-awal Islam, maka ulumuddin adalah sesuatu yang baru dan menarik, apalagi Rasul Saw masih hidup. Majlis-majlis ilmu bukan hanya di masjid Rasul di Madinah, namun juga diberbagai pelosok negeri dimana Rasulullah mengutus para sahabatnya untuk mengajarkan Islam pada mereka. Semangat para sahabat untuk mendapatkan ilmu masa itu benar-benar patut dijadikan contoh, tercatat dalam riwayat bagaimana Umar bin Khattab bergantian dengan seorang tetangganya dalam menghadiri majlis ta’lim Rasul, ketika Umar berhalangan tetangganya itu yang hadir, dan kemudian mengkhabarkan yang ia dapat kepada Umar, demikian juga sebaliknya. Kesibukan harian mereka tidak mengganggu keinginan mereka untuk menuntut ilmu dan kesungguhan mereka menuntut ilmu tidak menggaggu kehidupan mereka.

Selepas wafatnya Rasul Saw, para sahabat tetap membudayakan ta’lim yang sudah mengakar itu pada generasi-generasi berikutnya, sampai terjadinya Futuhat/penyebaran Islam ke Andalusia dan negeri-negeri di timur, seperti Irak, Persia, Hindia, Asia Tengah dan sebagainya, saat itu terjadi percampuran ras dan budaya sehingga umat Islam mengenal hal-hal baru dalam berbagai disiplin ilmu, ilmu ini yang disebut dengan ulumuddunya, perkembangan ilmu-ilmu baru ini begitu cepat dikalangan umat Islam, dan hebatnya munculnya ilmu-ilmu baru ini tidak menjadikan budaya ilmu-ilmu agama yang diwarisi dari generasi ke generasi terhenti, bahkan keduanya (ilmuddin dan ilmuddunya) sama-sama berkembang pesat. Banyak sekali ulama Islam yang tidak hanya menguasai satu disiplin ilmu, jika kita urut dari para sahabat maka kita akan dapatkan orang-orang seperti Hasan bin Tsabit, kemudian generasi sesudahnya Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Ahmad, Abu Abdillah al-Khawarizmi (bapak aljabar), Ibnu Ishaq al-Kindi (Filosuf Arab), Imam Bukhari, al-Baladzari (sejarawan), dalam bidang kedokteran seperti Ibnun Nafis, Ibnu Sina, Ali bin al-Abbas, Abul Qasim al-Qurthubi, yang merupakan ahli bedah terkemuka di zamannya, kemudian Ibnu Rusyd, Ibnu Zuhair, di bidang Astronomi seperti Ibnu Yunus (penemu jam matahari), di bidang geografi seperti an-Nadhr al-Bashri, Ibnul Majd, al-Ishthikhri, al-Mas’udi, kemudian Abdurrahman Ibnu Khaldun dan Abu Ja’far ath-Thabari. Mereka-meereka adalah ulama-ulama yang bisa menyeimbangkan antara ilmuddin dan ilmuddunya dan membuktikan kepada dunia bahwa agama Islam dan ilmu bisa sejalan.

Keseimbanga antara ilmuddin dan ilmuddunya tentunya bukan terjadi begitu saja, pastilah terlahir dari sebuah proses yang berkala, yang teratur dan kemampuan memposisikan setiap ilmu sesuai posisi yang seharusnya, sampai berujung pada pemilihan satu bidang disiplin ilmu tanpa meninggalkan hal-hal asasi pada bidang lain.

Sebagai pelengkap, penting juga rasanya bagi kita di sini untuk mengetahui pembagian ilmu agar kita mengetahui posisi setiap ilmu dan urgensi mempelajarinya. Ibnu Khaldun membagi ilmu pengetahuan kepada dua kelompok besar:
a. Ilmu Alat (ulum aliyah), seperti ilmu Ilmu Nahwu, Ilmu Bahasa, Ilmu Logika (Manthiq), Filsafat, Ilmu Pasti (Matematika, Biologi, Fisika, Kimia dan lain sebagainya), Geografi dan Geologi

b. Ilmu Tujuan (ulum maqshudah bidz dzat/ulum ghayah) seperti ilmu Tafsir, Hadits, dan Fiqh.

Dari pembagian itu dapat kita lihat Ibnu Khaldun menjadikan ulumuddunya sebagai ilmu alat untuk mencapai tujuan asli yaitu ulumuddin. Artinya apa? Ilmu agama adalah suatu yang pokok, yang harus diketahui semua muslim, atau dalam istilah lain para pakar, ilmu agama adalah ilmu ‘wajib’ sedangkan ilmuddunya adalah ilmu ‘sunnah’. Sebagai ilmu pendukung/alat, ulumuddunya mestilah selalu berkoalisi untuk mendukung ilmu agama bukan beroposisi terhadap agama.
Dan jika kita perhatikan, inilah yang terpraktekkan dalam perjalanan hidup para ulama, kita akan menemukan bagaimana masa kecil mereka dijalani dengan menguasi hal-hal pokok dari kedua jenis ilmu tersebut, mereka menghafal al-Qur’an dulu, kemudian menguatkan bahasa Arab khususnya, karena agama Islam diturunkan dalam bahasa Arab, kemudian belajar hadits-hadits penting serta hal-hal pokok dalam ilmu fiqh, inilah yang mereka jadikan dasar dalam mengarungi kehidupan ilmu mereka kemudian hari, maka setelah dasar ini kuat mereka baru merambah bidang ilmu lain sesuai kecenderungan masing-masing, maka jadilah mereka ulama-ulama yang disegani di spesialisasi mereka dan dihormati dalam kehidupan mereka karena memegang kuat dasar agama. Mungkin profil-profil seperti mereka itulah yang kita sebut-sebut sekarang dengan intelektual muslim sejati atau muslim yang intelek.

Intinya, setiap muslim dalam Islam boleh saja mendalami ilmu apa saja dengan catatan tidak melupakan bahwa dalam Islam ada hal-hal pokok yang harus selalu dijunjung, dan mesti diusahakan agar ilmu yang dipelajari selalu mengarah untuk mendukung kemajuan umat dan agama, bukan sebaliknya malah menghancurkan umat dan agama. Inilah idealisme kita sebagai seorang muslim dalam lapangan ilmu pengetahuan. Jika bukan kita yang memajukan agama ini siapa lagi?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s