Kapan Waktu Puasa Kafarat Haji Tamatu’?

Pertanyaan:

Saya melaksanakan haji secara Tamatu’, maka sudah seharusnya saya membayar Dam (denda) namun saya tidak mampu, sehingga saya harus melaksanakan puasa sebagai ganti dari Dam tadi. Kapankah saya harus malaksanakan puasa tersebut?

Jawab:

(Dijawab oleh Almarhum Syeikh Athiyah Shaqar, Ketua Komisi Fatwa al-Azhar as-Syarif)

Allah Swt. berfirman: “Maka bagi siapa yang ingin mengerjakan ‘umrah sebelum haji (di dalam bulan haji), (wajiblah ia menyembelih) korban yang mudah didapat. Tetapi jika ia tidak menemukan (binatang korban atau tidak mampu), maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari (lagi) apabila kamu telah pulang kembali. Itulah sepuluh (hari) yang sempurna. Demikian itu (kewajiban membayar fidyah) bagi orang-orang yang keluarganya tidak berada (di sekitar) Masjidil Haram (orang-orang yang bukan penduduk kota Mekah).” (QS. al-Baqarah:196).

Ayat diatas menunjukkan bahwa siapa memiliki kewajiban melaksanakan puasa karena Tamatu’ (yaitu mengerjakan ihram untuk umrah dalam musim haji sebelum melaksanakan haji) maka puasanya dilaksanakan dalam 2 periode, pertama ketika pelaksanaan haji dan kedua ketika ia telah kembali ke negerinya.

Ketika melaksanakan haji ia berpuasa 3 hari, akan tetapi kapan? Dalam permasalahan ini ada beberapa pendapat ulama, diantaranya:

A. Puasa tersebut dimulai setelah melaksanakan ihram haji. Dan biasanya orang yang mengerjakan Tamattu’, karena ia mengerjakan umrah terlebih dahulu, tidak menanggung kewajiban wajib-wajib ihram dalam waktu yang cukup lama, seperti tidak menggunakan harum-haruman, tidak memeotong rambut/bulu dan kuku, dan tidak mendekati istri. Maka ia berihram untuk haji sesaat sebelum hari ‘Arafah. Contohnya jika ia berihram pada hari ke-tujuh Dzuhijjah maka ia bisa melaksanakan puasa pada ke-tujuh, delapan dan sembilan (hari ‘Arafah). Inilah pendapat jumhur ulama, dan ia boleh melaksanakan puasa sebelum hari ke-tujuh jika ia berihram sebelum hari tersebut.

B. Ia berpuasa ketika ia berada di Makkah pada hari Mina, yaitu hari Tasyriq. Pendapat ini adalah pendapatnya Imam Malik dan segolongan Ahlu Madinah. Imam Malik meriwayatkan dalam Muwaththa’ dari ‘Aisyah ummul mukminin, bahwa beliau pernah berkata: “Puasa bagi yang melaksanakan haji Tamttu’ dan tidak bisa membayar Dam yaitu antara hari permulaan haji sampai hari ‘Arafah. Jika ia belum berpuasa juga maka ia harus berpuasa pada hari Mina”. Ada yang mengatakan puasa ini hukumnya ada’ dan ada juga pendapat lain yang mengatakan sebaliknya, puasa ini hukumnya dihitung sebagai qadha’(ganti), karena waktu asli pelaksanannya adalah sebelum hari Nahr , tapi yang lebih kuat adalah pendapat yang menyatakan bahwa puasa itu adalah ada’. Imam Qurthubi menjelaskan dalam tafsirnya (Jilid 2 hal 400): “Jika dikatakan bahwa puasa pada hari tasyriq itu terlarang, sebagaimana pendapat Imam Syafi’i dalam mazhab jadid-nya dan kebanyakan Syafi’iyah, dan jika larangan itu tetap (tsabit) berarti ia bersifat ‘am (umum) namun khusus bagi orang yang melaksanakn haji Tamatu’ tidak dikenakan larangan tersebut, hal ini terdapat dalam riwayat Imam Bukhari bahwa ‘Aisyah r.a pernah berpuasa pada hari-hri tersebut, dan diriwayatkan juga bahwa Ibnu Umar dan ‘Aisyah berkata: ” Tidak ditemukan rukhshah (keringanan) dalam masalah puasa pada hari tasyriq kecuali bagi yang tidak mampu membayar dam”. Imam Daruquthni mengatakan bahwa Sanad hadist ini shahih, dan tergolong hadist mauquf pada kedua sahabat diatas yang diriwayatkan secara marfu’ kepada Nabi Saw dari mereka berdua akan tetapi jalur periwayatannya dha’if .

C. Puasa tiga hari tersebut dilaksanakan sesudah hari Tasyriq. Ibnul Mundzir berkata: “Kami meriwayatkannya dari Ali bin Abi Thalib”, dan ini juga mazhab Imam al-Hasan dan Atha’.

D. Puasa tersebut dilaksanakan ketika ia melaksanakan ihram umrah, yaitu sebelum melaksanakan ihram haji. Selama orang yang ingin melaksanakan puasa tersebut dalam kondisi ihram maka ia boleh menunaikan puasanya itu, karena ihram umrah sama dengan ihram haji, pendapat ini diriwayatkan dari Imam Abu Hanifah.

E. Terakhir ada sebuah pendapat dari Imam Ahmad bin Hanbal yang membolehkan berpuasa sebelum ihram yaitu pada 10 hari di awal bulan Dzulhijjah (hari 1 sampai hari 10). Ini adalah pendapat Imam Atha’.

Kelima pendapat di atas dapat diringkaskan menjadi 2 pendapat inti, pertama; boleh melaksanakan puasa sebelum ihram, ini terdapat pada pendapat yang kelima, dan kedua; puasa tersebut hendaklah dilaksanakan setelah pelaksanaan ihram, ini tertuang dalam pendapat keempat. Dan boleh jadi ihram itu adalah ihram haji, pendukung mazhab ini berpendapat bahwa puasa tersebut dilaksankan sebelum hari Nahr, ini adalah pendapat jumhur ulama yang termaktub dalam mazhab nomor 1. Sementara itu sebagian mereka membolehkan pelaksanaannya setelah hari Nahr, yaitu bisa jadi pada hari Tasyriq karena darurat atau kebutuhan, dan ini disebutkan dalam pendapat nomor 2, dan boleh jadi setelah hari tasyriq, ini termaktub pada pendapat nomor 3.

Dari semua pendpat di atas, yang paling kuat adalah pendapat jumhur, dan tidak ada larangan jika memakai pendapat yang lainnya ketika dalam kondisi darurat dan butuh. (Sumber Tafsir al-Qurthubi Jilid 2 hal 399)

(Diterjemahkan dari rubrik Fatawa di majalah al-Iqtishad al-Islami edisi 284 bulan Dzulqa’dah 1425H/Desember 2005)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s