MELAWAN ARUS MATERIALISME-INDIVIDUALISME

Tanpa kita sadari materialisme menyerang tanpa pandang bulu, hanya orang-orang yang dirahmati Allah saja yang mungkin tidak akan terjerumus kedalamnya. Materialisme sangat berhubungan dengan individualisme, semakin individualis seseorang maka semakin besar kemungkinan ia menapaki jenjang materialis.

Hubungan antar sesama menjadi seperti hubungan bisnis, “jika anda saya butuhkan maka kita akan mengadakan hubungan”, “jika hubungan ini saling menguntungkan maka hubungan ini bisa lanjut ketahap-tahap selanjutnya”, “saya hanya akan menghubungi anda jika saya ada keperluan yang memang berhubungan dengan anda”, tipe-tipe hubungan seperti ini yang saat ini menjadi banyak berkembang diantara sesama.

Di kantor, bawahan menjaga-jaga hubungan atasan agar atasan merasa puas dan ujungnya ia akan cepat mendapatkan promosi, atasan juga melakukan hal yang sama yang berujung pada agar posisinya aman, tetap dipercaya dan syukur-syukur dapat jabatan yang lebih bagus, hubungan antara atasan-bawahan hanya menjadi hangat jika membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan urusan kantor, sedang urusan luar pekerjaan rutin hanya akan dibicarakan dengan hangat oleh sesama bawahan atau sesama atasan saja. Sehingga tidak heran jika di bawah panas sementara yang di atas tidak merasa ada apa-apa.

Di politik, justru disini lebih banyak intrik-intrik materialis dan individualisnya, jika bukan dari golongan kita jangan harap bisa dibantu, meskipun niat anda adalah untuk melaksanakan sesuatu yang syar’i. Semua memasang filter jika berhadapan dengan yang bukan golongannya dan sekonyong-konyongnya membuka filter itu jika yang dihadapi adalah yang dari golongannya..!

Di kuliah atau sekolahan, guru masuk lokal hanya untuk sekedar transfer ilmu, muridpun demikian tidak lebih, tugas guru selesai, tugas murid juga selesai, impas!. Maka tidak heran banyak murid yang tidak menghargai guru dan susah diatur, karena kita memang secara tidak langsung telah mengajarkan mereka individualisme.

Di jalanan, justru akan lebih naif lagi, karena semua orang sama-sama tidak ada hubungan langsung. Jika bukan bertatapan langsung dengan orang yang dikenal, kita jarang menyapa orang lain. Sehingga tidak heran jika ada kecelakaan, lebih banyak orang yang menonton dari yang menolong, atau jika terjadi aksi copet dan todong lebih banyak yang cari jalan sendiri-sendiri, asal diri selamat!.

Di lingkungan sekitar rumah, juga terjadi, jika butuh duit aja baru datangi tetangga, tapi jarang yang menawarkan duit untuk dipinjamkan kepada tetangganya. Sehingga tidak aneh jika terjadi kemalingan kita kebanyakan hanya bisa bisik-bisik menunjukkan bahwa kita juga merasa, duh..rendah sekali perasaan kita.

Di rumah, kadang-kadang juga terjadi, orang tua menganggp jika sudah memenuhi semua kebutuhan materi pada anak seolah-olah semuanya sudah terkendali, jarang yang menganggap pendidikan akhlak, etika dan moral yang berawal dari sentuhan hati sebagai sesuatu yang mesti didahulukan dalam rumah tangga. Maka tidak heran jika anak nge-drug, orang tua tidak tahu, jika anak ternyata tengah asyik menyaksikan dan berbuat mesum di kamar pribadinya para orang tua tidak sadar, dan jika telah terjadi hal-hal yang tidak diinginkan baru si anak dihajar habis-habisan.

Bahkan dalam tataran beragama (berislam), kita lebih sibuk memandang dan mengurung diri dalam batasan mazhab dan golongan secara berlebihan, sehingga memandang orang diluar sebagai musuh. Hal ini tidak terkecuali, bahkan juga di kalangan yang mendakwakan kebebasan dan pluralisme dalam beragama juga terjerumus!.

Banyak lagi hal-hal yang berbau materi menjadi nomor satu dalam kehidupan kita, saat ini.
Demikianlah materialisme dan individualisme telah menjadikan hubungan kita dengan sesama terasa hambar, tidak ada lagi ukhuwah yang hakiki, tidak ada rasa sayang dan cinta yang hakiki, sedang keikhlasan menguap bersama teriknya hawa materialisme dan individualisme tadi.

Kuatnya pengaruh dua hal ini pada zaman ini tidak terelakkan lagi, namun bukan berarti kita pasrah ketika ‘singa lapar’ menyerang, kita mesti melakukan hal-hal yang akan menyelamatkan diri kita, keluarga, masyarakat, agama, bangsa dan dunia ini darinya, paling kurang mengurangi intensitasnya. Tidak ada kata lain dari saat ini kita memang harus kembali belajar sifat dan sikap-sikap ringan tapi berpengaruh besar seperti ikhlas, sabar, jujur, amanah dan sebagainya karena sifat-sifat inilah sifat dasar untuk menjebatani kita menuju kesuksesan, baik didunia dan di akhirat tentunya, yaa..sifat-sifat itu hanyalah jembatan, tapi siapa yang mau meninggalkan jembatan dan lebih memilih melawan arus deras dibawahnya? berfikirlah lebih logis!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s