Tentang Perang Dan Keadilan

Hari-hari mereka selalu dilalui dengan ketakutan dan kecemasan , apalagi ketika Amerika dan sekutunya mendarat di daerah mereka, Irak, negeri seribu satu malam. Penjajah itu, Amerika dan sekutunya, memakai payung di atas kepala mereka untuk melegalkan aksi mereka, awalnya payung pencarian senjata pemusnah massal kemudian payung ketertindsasan rakyat Irak di bawah Saddam, merasa kurang terlindungi dengan dua payung, mereka pun menggunakan payung pengejaran Saddam Husein yang dalam ‘versi dunia’ adalah seorang penjahat perang. Masih merasa kurang, karena masih ingin bertahan di Irak sementara hujan hujatan dan perlawanan dunia semakin lebat, mereka menambah payung satu lagi, payung stabilitas nasional Irak, maksudnya mereka tetap di sana untuk mewujudkan stabilisa Irak pasca pembebasan rakyat Irak dari tirani Saddam, begitu katanya.

Berbulan-bulan bahkan telah lewat hitungan tahun mereka masih saja bercokol disana sementara stabilitas Irak tidak kunjung terwujud, yang ada bahkan sebaliknya, Irak semakin kacau, orang tua semakin cemas dengan masa depan anak-anak mereka, wanita-wanita semakin was-was bahkan untuk berada di dalam rumah mereka sendiri, hari-hari dilalui dengan letusan senjata, dentuman bom dan anyir darah.

Rasa takut dan cemas berubah menjadi hal yang biasa di Irak saat ini, lihatlah anak-anak biasa memegang dan memperjualbelikan senjata. Kondisi bahkan berbalik, kini justru tentara Amerika yang dihantui rasa itu. Berbagai gerakan perlawanan bermunculan, tak jelas siapa yang mengkoordinir, sehingga Amerika pun saat ini berada dalam kondisi peperangan yang tidak jelas, tidak jelas siapa lawan yang akan dihadapi, tidak jelas berapa lama aksi perlawanan ini akan berlanjut, tidak jelas berapa banyak dana yang sudah dan akan dikeluarkan. Kondisi inilah yang disebut sebagai perang berkepanjangan, sedangkan menurut Sun Tzu, seorang jendral yang baik adalah yang bisa menaklukkan lawannya secepat mungkin dan menghindari perang berkepanjangan dan kalau bisa mengalahkan lawan tanpa satu tetes darahpun tertumpah ke bumi, tidak darah kita tidak juga darah musuh.

Ketidakmampuan Amerika menyelesaikan permainan yang telah ia mulai sendiri ini bisa jadi awal kekalahan Amerika di masa akan datang, apalagi mata dunia semakin terbuka melihat tindakan-tindakan tentara sekutu Amerika yang di luar batas-batas nilai kemanusiaan, seperti kabar yang sangat ma’ruf, kejadian di penjara Abu Ghreib kemudian kasus-kasus perkosaan. Tapi tindakan semacam itu bukanlah yang pertamakalinya sepanjang sejarah Irak, dulu bangsa Tartar juga talah berbuat demikian, bahkan untuk kaliber dunia, perang yang tidak berperikemanusiaan merupakan warna tersendiri. Sebelum kedatangan Islam bangsa Persia telah mnempraktekkannya, demikian juga dengan imperium Romawi. Daerah manapun yang mereka perangi mereka pastikan kalau daerah tersebut telah merasakan luka akibat keperkasaan sang penjajah, kemudian semua rakyatnya harus tunduk di bawah peraturan mereka, agama mereka dan bekerja untuk mereka.

Namun ketika Islam datang imej perang yang tidak berperikemanusiaan terhapuskan, dan justru tidak sedikit wilayah kekuasaan Romawi dan Persia yang dengan terbuka menerima kedatangan pasukan Islam tanpa perlawanan, bahkan diantaranya meminta agar didatangkan pasukan Islam untuk membebaskan mereka dari tiran Romawi dan Persia, seperti Mesir yang saat itu berada di bawah Romawi.

Setelah Islam berkuasa, mereka diberikan kebebasan menjalankan kehidupan mereka seperti biasanya, tidak ada kerja paksa, tidak ada pemaksaan agama, keamanan mereka terjamin, gereja mereka aman bahkan batas kota mereka terpelihara. Seperti itulah yang terjadi ketika Umar bin Khattab datang ke Palestina atau juga ketika Khalid bin Walid sampai di Damaskus.

Dalam aturan Islam sendiri mereka mendapat perhatian khusus dengan mengkategorikan mereka sebagai ahlu dzimmah, yaitu orang-orang non-Islam yang membuat perjanjian dengam pihak Islam untuk berada di bawah kekuasaan Islam dengan dengan syarat mereka membayar jizyah/upeti sebagai jaminan dan mau ikut peraturan Islam, dengan artian ketika mereka membawar jizyah semua hak dan keajiban mereka sebagai warga negara sama dengan muslimin, darah dan harta mereka sama hukumnya dengan darah dan harta kaum muslimin. Pada prakteknya sistem ini mirip sistem otonomi daerah yang belakangan populer di Indonesia, bahkan lebih adil.

Kemanusiaan dan keadilan inilah yang telah hilang selama ini, selama Islam tidak diberikan kesempatan kembali muncul kepermukaan. Kegelapan dengan aroma kecurangan dan ketidakadilan ini akan semakin gelap tentunya ketika umat Islampun ikut terlena dan tidak (mau) sadar padahal mereka memegang kontak lampu keadilan dunia.

Tapi saya yakin mentari bukan lampu, ia akan terbit dengan sendirinya, di bawah perintah Allah Yang Maha Kuasa tentunya, dan ia akan muncul sedikit-demi sedikit ketika kegelapan malam memuncak, itulah yang disebut fajar.
yaa…saya rasa ia begitu dekat…Allahuakbar…salam untuk para syuhada, para pejuang di bumi manapun mereka berada.

Abrar Agung

Satu pemikiran pada “Tentang Perang Dan Keadilan

  1. Ping balik: Mike

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s