Sejarah Berdirinya Jami’ Al-Azhar

Tentang pendirian Jami’ al-Azhar kita memang harus berterimakasih dan mengakui bahwa Dinasti Fathimiyahlah yang memiliki andil besar di dalamnya. Oleh sebab itu tidaklah aib jika kita runtut sedikit sejarah kebelakang terutama tentang masuknya Dinasti ini ke kawasan Mesir.

* * *

Dinasti Fathimiyah Menguasai Mesir

Dinasti Fathimiyah didirikan oleh al-Mahdi Abu Muhammad Ubaidillah pada tahun 297 H./909 M. di negeri Maghrib (sekitar Maroko sekarang) dengan Qairawan sebagai ibu kota negaranya.

Seiringan dengan berkembangnya kekuasaan Fathimiyah di sekitar daerah Maghrib, timbul cita-cita besar khalifah al-Mahdi untuk menjadikan Dinastinya sebagai pemegang kekuasaan di dunia Islam kala itu sekaligus menyebarkan mazhab Syi’ah yang dipakai di kalangan Fathimiyah. Keinginan ini tentunya hanya bisa terwujud jika sanggup menaklukkan Daulah Abbasiyah di kawasan timur negeri Islam (sekitar Baghdad) yang saat itu memegang kontrol di sebagian besar daerah-daerah Islam.

untuk mewujudkan cita-cita besar tersebut, al-Mahdi segera mengatur rencana dan sebagai terget awal adalah bagaimana menguasai kawasan Hijaz (Makkah dan Madinah) dan Syam (sekitar Syiria sekarang).

Menaklukkan dua kawasan tersebut tidaklah mudah, setidaknya ada dua penghalang yang dapat menggagalkan rencana khalifah Fathimiyah al-Mahdi. Pertama dari sisi pengaruh politik, kawasan Hijaz dan Syam saat itu berada dalam pengaruh kuat Ikhsyidiyah yang berpusat  di Mesir. Kedua dari sisi geografis, negeri Mesir yang menjadi pusat daulah Ikhsyidiyah adalah negeri Abbasiyah pertama yang berbatasan langsung dengan kekuasaan Fathimiyah dan berada di antara negeri Maghrib dan kawasan Hijaz dan Syam, maka dengan demikian posisi Maghrib sangat tidak menguntungkan sekali secara politik dan militer jika mereka langsung melakukang penyerangan ke Hijaz dan Syam.

Dengan mempertimbangkan hal di atas, mereka memastikan bahwa mereka memang perlu menaklukkan Mesir dan Ikhsyidiyah yang memiliki posisi geografis lebih menguntungan secara politik dan militer.

* * *

Keinginan khalifah al-Mahdi untuk menaklukkan Mesir tidak dapat dibendung lagi, tiga kali penyerangan dilancarkan, serangan pertama dilancarkan pada tahun 301 H./913 M. namun serangan tersebut menemui kegagalan. Kemudian pada tahun 307 H./919 M. ia kembali mengadakan penyerangan, sayang hasilnya tetap nihil. Lalu pada tahun 321 H./933 M. ia mengirim pasukan untuk yang ketiga kalinya, usaha ini terus dilanjutkan sampai masa anaknya al-Qaim Biamrillah diangkat menjaid khalifah kedua Fathimiyah, namun hasilnya juga belum memuaskan, bahkan di sisa-sisa masa jabatan al-Qaim, ia lebih sibuk mengurusi gejolak-gejolak yang terjadi di dalam negerinya, sehingga kegiatan agresi militer ke Mesir mengalami kevakuman.
Keadaan seperti ini terus berlanjut di sepanjang masa pemerintahan khalifah ketiga Bani Fathimiyah, al-Mansur Binasrillah (334 H.-341 H./945 M.-952 M.).

Kondisi dalam negeri membaik ketika khalifah keempat, al-Muiz Lidinillah, naik tahta di akhir tahun 341 H./953 M.
Seluruh suku bangsa Barbar yang sebelumnya membangkang dapat “dijinakkan” saat itu, kemudian Bani Idrisiyah yang memberontak dan ingin melepaskan diri dapat juga ditaklukkan.

Keberhasilan dari sisi internal ini ternyata menjadikan kekuasaan Daulah Fathimiyah meluas, membentang dari barat Tripoli (Libiya sekarang) disebelah timur sampai Samudera Atlantik di sebelah barat.

Ketika itulah keinginan untuk menguasai Mesir kembali muncul. Keinginan ini juga diperkuat dengan beberapa alasan-alasan baru, diantaranya:
a. Meninggalnya Kafur al-Ikhsyidi tahun 357 H./968 M. yang merupakan wali Mesir sejak dua tahun sebelumnya.
b. Terjadinya krisis ekonomi di Mesir. Berkali-kali terjadi banjir di Mesir selama kurun sembilan tahun yang menyebabkan lahan pertanian menjadi sempit dan otomatis harga bahan pangan menjadi mahal serta diikuti dengan naiknya harga-harga kebutuhan pokok lainnya sehingga terjadilah bencana kelaparan di Mesir dan menyebarnya wabah penyakit di kalangan penduduk Mesir.
c. Kekacauan di bidang ekonomi ini merembes ke bidang militer, dimana terjadi perpecahan antara pemimpin-pemimpin militer negara. Situasi ini menambah kemarahan publik terhadap penguasa saat itu berlipat ganda.
d. Sekelompok golongan ekstrim Syi’ah yang disebut Qaramithah terus berusaha mengerogoti kawasan timur Mesir, dan kebetulan sekali beberapa anggota kelompok ini memiliki hubungan baik dengan Dinsti Fathimiyah.

Awalnya golongan Qaramithah inilah yang melakukan gencaran ke Mesir sehingga muncul kecemasan di kalangan publik, dalam kondisi tidak menentu ini sejumlah orang Fathimiyah telah bermain di dalam masyarakat Mesir untuk misi propaganda dan pengendalian opini publik agar mereka siap dengan masuknya penguasa baru di Mesir.

Dilain pihak Abbasiyah di Baghdad tidak sangup mengirim pasukannya untuk mengatasi krisis di Mesir.

* * *

Dengan memperhatikan kondisi internal dan eksternal yang demikian maka khalifah al-Muiz memberanikan diri meneruskan cita-cita pendahulunya yang belum menuai hasil maksimal.

Singkat cerita, selanjutnya khalifah Fathimiyah, al-Muiz Lidinillah , menyerahkan tanggungjawab penaklukan Mesir kepada panglima perangnya Jauhar ash-Shiqli yang sebelumnya berhasil meluaskan kekuasaan Fathimiyah sampai ke pantai Samudera Atlantik (barat Maroko sekarang).

Untuk penyerangan kali ini al-Muiz menyiapkan pasukan dengan kekuatan yang cukup besar dengan menempatkan seratus ribu pasukan berkuda di dalamnya. Sepertinya khalifah al-Muiz tidak ingin mengulangi kekalahan yang diderita pada tiga agresi sebelumnya.

Sebelum pengiriman pasukan dimulai, al-Muiz melakukan serangkaian persiapan-persiapan untuk menunjang kelancaran serangan ini, diantaranya pembangunan jalan dan jalur-jalur penghubung ke Mesir, penggalian sumur-sumur, pendirian tempat-tempat istirahat dan tidak lupa pendanaan dalam skala besar.

Di saat semua persiapan dirasa cukup maka mulailah khalifah al-Muiz melepas kepergian pasukannya di bawah komando panglima Jauhar ash-Shiqli pada 14 Rabi’ul Akhir 358 H./7 Maret 969 M.

Pasca beberapa seremonial pelepasan, berangkatlah pasukan besar itu menuju arah Mesir. Dan ketika al-Muiz kembali ke istananya, ia mengirimkan pakaian kebesarannya yang baru saja dipakai dalam seremonial tadi kepada Jauhar as-Shiqli kecuali cincin khalifahnya.

Setealah beberapa hari perjalanan, Jauhar dan pasukannya masuk Mesir melalui Iskandariyah (Alexandria). Ketika berita ini sampai di Fusthat, Ja’far al-Furat (menteri Mesir) dan orang-orangnya mengajukan permohonan perlindungan keamanan. Pada 18 Rajab 358 H mereka menyusun sebuah pertemuan dengan pihak Jauhar. Pertemuan tersebut menghasilkan kesepakatan yang menyatakan bahwa Jauhar akan memberikan keamanan dan kedatangannya ke Mesir adalah dalam rangka perbaikan serta tidak memaksakan mazhab Syi’ah pada masyarakat Mesir yang Sunni. Ternyata fakta di lapangan berkata lain, sebagian besar tentara Mesir tidak setuju dengan nota kesepakatan tersebut, sehingga terjadilah pertempuran yang berakhir dengan kekalahan pasukan mesir yang tidak setuju.

Pada sore 17 Sya’ba 358 H./6 Juli 969 M. Jauhar ash-Shiqli beserta pasukannya masuk bagian kota Mesir yang kala itu mencakup kawasan Fusthat dan ‘Askar. Dan Jauhar mengambil sebuah tempat luas yang berposisi menghadap kedua kota tersebut sebagai markas pasukannya, tempat itu disebut Munakh.

Dengan masuknya pasukan Dinasti Fathimiyah ke Mesir berarti berakhirlah masa pendudukan Mesir di bawah kekuasaan Ikhsyidiyah dan Abbasiyah, dan mulailah Mesir memasuki babak baru di bawah kekuasaan Dinasti Fathimiyah.

* * *

Sebagaimana tradisi kaum muslimin sebelumnya, maka setelah berhasil menduduki Mesir, Jauhar segera mendirikan sebuah kota sebagai lambang kekuatan sekaligus kemenangan sisi politik dan militer Daulah Fathimiyah atas Daulah Abbasiyah di Mesir. Bahkan ketika itu Jauhar menghapuskan dan melarang pemakaian semua simbol-simbol Abbasiyah.

Kota tersebut dinamai oleh Jauhar ash-Shiqli dengan Mansuriyah, mengambil nama khalifah Fathimiyah ketiga yang merupakan orang tua khalifah al-Muiz sendiri. Mungkin Jauhar ingin kedudukannya di mata al-Muiz semakin tingi dengan menamai kota baru mereka dengan nama orang tua Sang Khalifah.

Nama ini terus dipakai selama empat tahun, sampai di saat kedatangan khalifah al-Muiz ke Mesir ia menggantinya dengan nama al-Qahirah atau yang lebih kita kenal dengan Kairo.

Al-Qahirah atau al-Qahir sendiri dalam bahasa arab berarti yang perkasa atau kuat, konon sebab penamaan kota ini demikian karena al-Muiz sendiri adalah seorang yang cenderung optimistik. Pemilihan nama itupun sebenarnya telah muncul di benak al-Muiz semenjak ia berada di negeri Maghrib, bahkan sebelum Jauhar ash-Shiqli beserta pasukannya melangkah menuju negeri baru ini, tepatnya ketika ia menyampaikan pidato pelepasan pasukan:” demi Allah, walaupun Jauhar ini berangkat seorang diri saja niscaya Mesir akan dapat ditundukkan juga, ia akan memasuki Mesir tanpa peperangan, kemudian menetap di reruntuhan Ibnu Touloun dan medirikan sebuah kota bernama al-Qahirah (yang perkasa) yang akan menaklukkan dunia…”.

Prof. Ahmad Hasan al-Baquri, mantan rektor Universitas al-Azhar, pernah menyebutkan alasan lain pemilihan nama al-Qahirah:” …ketika Presiden Jamal Abdul Naser berada di kota Qairawan, beliau mengunjungi sebuah masjid di sana yang bangunannya mirip dengan bangunan al-Azhar dan di sampingnya terdapat sebuah ruangan. Teman-teman dekatnya memberitahu bahwa dahulu ruangan itu adalah tempat penyimpanan harta dan senjata, dan mereka dulu menamakan ruangan tersebut dengan al-Qahirah. Dengan nama inilah dinamai kota al-Qahirah (Kairo) setelah Fathimiyah menaklukkan negeri Mesir, tambah mereka.”

Di lain riwayat disebutkan juga bahwa yang menamai kota ini dengan al-Qahirah bukan Khalifah namun Jauhar sendiri terinspirasi dari planet Mars, yang menurut ahli bintang/falak masa lalu merupakan raja planet/bintang (qahirul falak). Karena menurut riwayat ini ketika pembangunan kota akan dimulai, para ahli bintang mengelilingi pondasi kota dengan tali dan pada tali itu digantungkanlah lonceng-lonceng, kemudian mereka mulai menunggu bintang yang muncul, di saat itulah hinggap burung di atas tali tadi yang menyebabkan lonceng-lonceng tersebut berbunyi dan mereka mendapati bintang kejora (planet mars) telah muncul di ufuk, maka mulailah para pekerja mengayunkan tangan-tangan mereka, mulai membangun kota itu, dan kemudian dinamailah kota itu dengan al-Qahirah.

Terlepas dari beragam versi di atas, di beberapa kesempatan nama al-Qahirah juga biasa disebut al-Qahirah al-Muiziyah dengan menisbahkan nama khalifah al-Muiz kepadanya, atau al-Qahirah al-Mahrusah karena dinding pagarnya yang tinggi dan pintu-pintunya yang besar.

Dari segi posisi, kota al-Qahirah ini terletak di sebelah timur Fusthat, berbentuk persegi empat yang panjang sisinya 1200 meter dan dikelilingi oleh pagar yang besar. Waktu itu ia mencakup daerah al-Azhar, Gamaliyah, Husainiyah, Babu asy-Sya’riyah, Moski, Ghouriyah dan Bab al-Khalq.

Di sisi timur pagar kota, tepatnya di tempat yang dijadikan Jauhar sebagai markas pasukannya, dibangun juga sebuah istana untuk khalifah al-Muiz. Disekitar kawasan inilah berpusat pemerintahan Fathimiyah kala itu, di sana juga dibangun gudang-gudang senjata.

Namun, di masa-masa awalnya Kairo belumlah menjadi sebuah ibu kota melainkan hanya kumpulan dari istana-istana besar, Jami’ al-Azhar, barak-barak militer dan pemukiman kabilah-kabilah dari Maghrib. Sementara itu Fusthat yang berada di pinggir Nil masih berfungsi sebagai pusat perdagangan dan selalu setia meyambut kedatangan kapal-kapal Nil dari daerah-daerah selatan yang mengangkut hasil-hasil pertanian, ia juga masih menjadi kota terbesar bagi para pencari kerja dan pencari ilmu & pengetahuan.

Maka dengan berdirinya al-Qahirah atau Kairo berarti ia adalah kota Islam keempat yang didirikan dalam selang waktu 338 tahun sejak Amru bin Ash mendirikan kota Fusthat tahun 20 H.
Dan takdir telah menjadikan jejak-jejak kebesaran tiga kota sebelumnya terhapus sedangkan Kairo tetap kokoh sampai saat ini sebagai ibu kota Mesir dan kota terbesar dalam dunia Islam-selain Istambul ketika menjadi ibu kota Dinasti Utsmani- serta menjadi pusat perkembangan peradaban dari sisi agama, pemikiran dan pengetahuan dalam dunia Islam dan Arab khususnya.

* * *
(bersambung…)

22 Komentar »

  1. feryferdian Said:

    bagaimana proses kegiatan belajar di al azhar kairo?
    bagaimana lingkungan disana, yang katanya sudah nenyamai dunia barat?
    apakah ada tindak lanjut mengenai hal tersebut dari pemerintah mesir, padahal mesir adalah salah satu negara islam yang sangat disegani oleh dunia
    apa saja kegiatan di sana, dan berikan jadwal secara lengkap!

  2. ragab304 Said:

    1.Proses belajar di al-azhar memang agak unik kalau dibandingkan dengan univ-univ lainnya, seperti dial-azhar tidak ada sistem absensi di S1, administrasi yang masih ‘tradisional’ dalam artian belum terlalu memanfaatkan kecanggihan teknologi secara maksimal, kalau al-azhar boleh berbangga, maka itu adalah karena al-Qur’an dan ilmu, itu saja. Di luar itu saya tidak bisa menjamin anda bisa betah lama-lama di al-azhar.
    2. Lingkungan yang sudah menyamai dunia barat, saya kira belum bisa dikatakan begitu ya, hanya saja dalam beberapa tahun terakhir mungkin memang kondisi mesir cepat sekali berubah ke arah sana, seperti perilaku pemuda & pemudi..namunpun demikian masih banyak hal-hal positif dan islami khususnya yang belum terkikis di sana..itu mungkin karena Mesir memang dari dulu terkenal sebagai pusat peradaban dunia tertua, dan sepertinya memang sampai saat ini peran itu masih berjalan khususnya bagi dunia arab dan islam, Mesir adalah negara yang terbuka bagi beragam etnis, agama, dan corak pemikiran. Anda akan sangat puas berjalan-jalan di Mesir jika anda adalah pencinta buku dan ilmu…hehehe…ini satu alasan yang selalu saya sesalkan mengapa harus meninggalkan Mesir dan belum bisa kembali kesana.
    O iya, mungkin ketika menilai Mesir kita harus membedakan antara sikap pemerintah dengan sikap masyarakat Mesir, khususnya jika berkaitan dengan masalah-masalah keislaman. Masyarakat Mesir sendiri tidak sedikit yang tidak sependapat dengan kebijakan-kebijakan pemerintahnya.
    Cobalah ke Mesir, anda akan mendapatkan dunia yang lain…hehehe..promosi..
    3. wah kalau kegiatan…banyak sekali ya..mau bikin jadwal saya juga bingung nih mau mulai dari mana..karna itu kan sama aja saya cerita tentang kehidupan di mesir, bisa jadi satu buku ntar..hehehe:) gini aja, coba anda kunjungi situs http://www.ppmimesir.info (situs persatuan pelajar dan mahasiswa Indonesia di Mesir), atau situs sinaimesir.com, lal di sana anda bisa diskusi dengan teman-teman di Mesir…gmn, stuju?
    Tapi secara umum kegiatan mahasiswa di Mesir, yang jelas kuliah ya,lalu kegiatan-kegiatan keilmuan, seperti kajian-kajian, diskusi-diskusi, dialog, talaqqi, tahfiz al-qur’an, dsb, lalu kegiatan olah raga, seni, hmm..jurnalistik juga rame tuh di kairo..ya ga’ jauh-jauh beda juga lah dengan di indonesia, karna mahasiswa kita di kairo juga beragam.

  3. aku-AQ Said:

    Wah… jadi pingin ikut belajar di sana nich…

    kawan kawan mau ikutan ga???

  4. raymust Said:

    andai aq bsa kesana,aq akn doakan kalian yg bca ini untuk bsa nyusul aq ke al azhar,,,he2009x…MAU.????

  5. penggemar shalahudin Said:

    bangunan apakah sebelum al-azhar di bentuk? apakah masjid,madrasah,atau langsung menjadi universitas?

  6. siiaaaaapaaassiii Said:

    wah bagus tuh aq jadi ingin k sna nh……….

  7. Nofel_felish Said:

    Tks ya datanya

  8. Nahid Said:

    Minta izin ngopy buat tempel di mading, Makasih sebelumnya

  9. amiruddin Said:

    syapa sih… orang indonesia pertama yang belajar di al-azhar mesir…?saya butuh informasi ini. penting. tq.www

  10. M.nuzzahri Said:

    hai akhi-akhi yang kuliah di al azhar cairo ana mau tanya
    mazhab apa yang di ajari di universitas al azhar cairo?
    mohon untuk di jawab karena ana kepingin kuliah di sana
    jikalau di sana di ajari mazhab yang 4 maka ana akan kuliah di sana tapi kalau bukan mazhab yan empat ana kagak jadi kuliah di universitas itu ana cari yang lain aja pokok nya yang di timur tengah deh

    • Broer Said:

      ke empat mazhab di ajarkan di fak syari’ah, tapi antum mesti milih salah satu…mau hanafi, maliki, syari’i atau hanbali terserah..anta hurr..

  11. Ari Said:

    Kalau kita bandingkan dengan Jami’ah Islamiyah (universitas islam) madinah, mana yang bagus Al Azhar atau Univ.Madinah ?? karena saya pernah liat di internet yakni ada seorang ustadz yang pernah kuliah di madinah dan juga mesir , mengatakan untuk hal-hal yang berhubungan dengan akidah, manhaj, AL-Qur’an, hadits, tafsir, dan dsar-dasar agama, lebih baik Madinah. Serta orang belajar di Madinah lebih terseleksi dari segi pemikiran. bagaimana menurut untum yang akan Menjawab ini ???? saya sarn juga yang lain untuk belajar juga ke Al Imam Muhammad bin saud university di riyadh, Umm Al Qura Makkah University, atau Daru hadiys Al khairiyyah Makkah. Dan Yang fenomenal DARUL HADITS DAMMAJ YAMAN

    • KURIN Said:

      BUAT SAYA YANG PENTING SUKSES DUNIA DAN AKHIRAT DAN G PILIH PILIH TEMPAT PERGURUAN TINGGI

  12. Indah Said:

    pendiri al azhar dari bani fatimiyah siapa??

    • ANYEM Said:

      GAG TAHU , AKU BKN ILMUAN SEJARAHWAN

  13. saya tidak tahu seluk beluk al azhar tapi yang saya tahu al azhar sudah sangat populer dari dulu

  14. putri Said:

    ada yang tau visi misinyaa al-azhar mesir gag? terimakasih

    • SODRON ARIEGO Said:

      G TAU MBAG………EMANG CPA………..???????!!!!!!

  15. Fas’aluu ahlaadzikri inkmtum laa ta.lamuun
    Kemari kan kujelaskannya padamu

  16. bambang Said:

    Al azhar tidak punya apa2 kecuali nama besar ia tidak lebih dari tempat barmain dan wisata serta gengsi belaka bagi mahasiswa hususnya mahasiswa indonesia coba lihat mana ada universitas yg mahasiswanya kuliah s1 mpai 15 th kl lulus mereka mndapat gelar Lc (lulusan cetingan)

  17. yasmin azura misha Said:

    gsdlq

  18. beb Said:

    bwat bambang..
    anjing you


{ RSS feed for comments on this post} · { TrackBack URI }

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: