MAZHAB HANAFI

a. Profil Imam Mazhab (Imam Abu Hanifah r.a)

Lengkapnya, nama Imam Abu Hanifah adalah Nu’man bin Tsabit bin Zutha, lahir pada tahun 80 H di kota Kufah dan meniggal tahun 150 H (tahun lahirnya Imam Syafi’i). Ketika beliau lahir umat Islam berada dibawah kekhalifahan Bani Umayyah, tepatnya khalifah Malik bin Marwan, sedang di Irak sendiri yang menjadi walinya adalah al-Hajjaj ats-Tsaqafi.

Di waktu muda beliau juga merasakan keadilan khalifah Umar bin Abdul Aziz, dan hidup beliau terus berlanjut ketika Bani Umayyah jatuh dan digantikan oleh Bani Abbasiyah. Jadi bisa dikatakan bahwa beliau sangat mengetahui tentang polemik, kemajuan dan kemunduran kekhalifahan Bani Umayyah. Sedangkan ketika beliau wafat umat Islam berada dibawah kekhalifahan al-Manshur dari Bani Abbasiyah.

Beliau termasuk kalangan Tabi’in, sebab waktu itu beberapa Shahabat masih hidup, seperti Anas bin Malik r.a di Basrah, Abdullah bin Abi Aufa di Kufah, Abu Thufail Amir bin Wailah di Makkah dan Sahal bin Sa’ad bin Sa’idi di Madinah, namun beliau tidak pernah bertemu dengan seorangpun diantara mereka. Dengan demikian mazhab ini adalah mazhab yang tertua diantara mazhab-mazhab Ahlu Sunnah.

MENUNTUT ILMU

Seperti kebiasaan ulama lainya, masa kecilnya dilalui dengan menghafal al-Qur’an kemudian beberapa hadits-hadits penting. Sedang kehidupan ilmiyahnya dimulai dengan menekuni Ilmu Kalam, mungkin dikarenakan kondisi masyarakat Irak yang saat itu banyak perbedaan dan perdebatan masalah akidah sehingga memberikan pengaruh terhadap kecenderungan Abu Hanifah muda. Namun lama-kelamaan beliau menyadari bahwa selama ini ia telah mengikuti jalan yang tidak pernah diikuti para salafuna ash-shalih dan sibuk dengan perdebatan-perdebatan yang tidak jelas manfaatnya. Inilah yang menjadi faktor asasi perubahan haluan ilmu beliau ke bidang Fiqh yang lebih nampak manfaatnya di tengah masyarakat.

Dalam belajar Fiqh, Imam Abu Hanifah mengambil Fiqh ulama Kufah dari berbagai aliran dan metode yang ada di sana, sementara sebagaimana yang kita ketahui bahwa Fiqh Kufah secara umum bermuara pada metode beberapa orang tokoh seperti Ali bin Abi Thalib, Ibnu Mas’ud, Alqamah (murid Ibnu Mas’ud) dan Ibrahim an-Nakha’i, metode mereka itu diistilahkan dengan Fiqh al-Qiyas wa at-Takhrij. Disamping itu beliau juga sempat mendengar pengajaran ulama besar Tabi’in seperti Atha’ bin Abi Rabah, Nafi’ Maula Ibnu Umar dan Hammad bin Abi Sulaiman.

Setelah beberapa lama mengembara mendengar dan belajar dari ulama-ulama Kufah, akhirnya Imam Abu Hanifah r.a mengambil sikap untuk belajar Fiqh secara khusus dari seorang ulama saja atau yang dikenal dengan istilah mulazamah, dalam hal ini beliau belajar kepada Hammad bin Abi Sulaiman r.a yang merupakan murid Alqamah bin Qais r.a (murid Ibnu Mas’ud r.a) sekitar awal abad ke dua hijriyah. Imam Hammad sendiri waktu itu adalah salah seorang ulama besar kalangan Tabi’in di Kufah. Dan disebutkan dalam banyak buku bahwa Imam Abu Hanifah selalu menyertai gurunya ini sampai akhir hayatnya, yaitu selama 18 tahun. Bahkan beliau menyamakan posisi gurunya ini dengan orang tuanya.

ABU HANIFAH SEORANG GURU

Paca meniggalnya Imam Hammad bin Abi Sulaiman pada tahun 120 H., posisinya digantikan oleh Imam Abu Hanifah. Dalam mengajar beliau sering mengemukakan hal-hal baru dan sering juga mendebat banyak pendapat, bahkan dalam mengajar tidak sekali beliau menggunakan metode diskusi dengan murid-muridnya, dan jika sebuah pembahasan sampai kepermasalahan adat, mashlahah dan masalah keadilan, semuanya terdiam. Namun di saat yang sama beliau juga dikenal sebagai seorang guru yang banyak diam, menghargai pendapat orang lain, ahli ibadah, zuhud, wara’ dan tawadhu’. Dengan demikian beliau menggabungkan dua dunia; dunia pasar dan dunia ilmu, dari dunia pasar beliau mendapatkan kekuatan berdebat dan logika, dan dari dunia ilmu beliau mendapat sinar ke-tawadhu’-an.

Dengan segala kelebihan yang dimilikinya menyebabkan banyak orang yang mengikuti majlis ilmu dan metodenya dalam Fiqh. Dan tidak sedikit juga pujian datang baik itu secara terang-terangan disampaikan kepada beliau maupun yang tidak, baik dari yang sealiran maupun tidak, dari khalifah sampai masyarakat biasa.

Dalam mengajar, metode beliau mirip dengan metode yang dipakai Socrates. Beliau tidak sekedar menyampaikan ceramah, bahkan lebih banyak mengemukakan masalah-masalah dan dilemparkan kepada murid-muridnya sembari memberikan dasar-dasar pijakan dalam menetapkan hukum, kemudian mereka berdiskusi dan berdebat bersamanya, dan di akhir beliau baru mengeluarkan pendapatnya.
Metode seperti ini tentunya hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang berjiwa besar dan memiliki kepribadian yang kuat, karena ia satu saat akan berada di posisi murid dan di saat yang lain berada di posisi guru. Dan tujuan dari metode ini adalah untuk meluaskan wawasan, menguatkan ilmu murid dan guru dalam waktu yang bersamaan.

Bagi Imam Abu Hanifah, murid-muridnya merupakan orang-orang yang paling beliau cintai, seperti hubungan bapak dengan anak. Bahkan ketika Abu Yusuf terlambat menghadiri majlis beliau karena membantu orang tuanya dalam mencari nafkah hidup, beliau panggil dan setelah mengetahui alasannya beliau tidak sungkan-sungkan memberikan 100 dirham agar Abu Yusuf tidak lari lagi dari majlis beliau, dan hal ini tidak terjadi sekali saja!.

METODE FIQH ABU HANIFAH

Adapun metodenya dalam Fiqh sebagaimana perkataan beliau sendiri: “Saya mengambil dari Kitabullah jika ada, jika tidak saya temukan saya mengambil dari Sunnah dan Atsar dari Rasulullah saw yang shahih dan saya yakini kebenarannya, jika tidak saya temukan di dalam Kitabullah dan Sunnah Rasulullah saw, saya cari perkataan Sahabat, saya ambil yang saya butuhkan dan saya tinggalkan yang tidak saya butuhkan, kemudaian saya tidak akan mencari yang di luar perkataan mereka, jika permasalahan berujung pada Ibrahim, Sya’bi, al-Hasan, Ibnu Sirin dan Sa’id bin Musayyib (karena beliau menganggap mereka adalah mujtahid) maka saya akan berijtihad sebagaimana mereka berijtihad”.
Metode yang dipakainya itu jika kita rincikan maka ada sekitar 7 Ushul Istinbath yang digunakan oleh Imam Abu Hanifah: al-Qur’an; Sunnah, Ijma’, Perkataan Shahabat, Qiyas, Istihsan dan ‘Urf (Adat).

1. Al-Qur’an, Abu Hanifah memandang al-Qur’an sebagai sumber pertama pengambilan hukum sebagaimana imam-imam lainnya. Hanya saja beliau berbeda dengan sebagian mereka dalam menjelaskan maksud (dilalah) al-Qur’an tersebut, seperti dalam masalah mafhum mukhalafah.

2. Sunnah/Hadits, Imam Abu Hanifah juga memandang Sunnah sebagai sumber hukum kedua setelah al-Qur’an sebagaimana imam-mam yang lain. Yang berbeda adalah beliau menetapkan syarat-syarat khusus dalam penrimaan sebuah hadits (mungkin bisa dilihat di Ushul Fiqh), yang memperlihatkan bahwa Abu Hanifah bukan saja menilai sebuah hadits dari sisi Sanad (perawi), tapi juga meneliti dari sisi Matan (isi) hadits dengan membandingkannya dengan hadits-hadits lain dan kaidah-kaidah umum yang telah baku dan disepakati.

3. Ijma’, Imam Abu Hanifah mengambil Ijma’ secara mutlak tanpa memilah-milih, namun setelah meneliti kebenaran terjadinya Ijma’ tersebut.

4. Perkataan Shahabah, metode beliau adalah jika terdapat banyak perkataan Shahabah, maka beliau mengambil yang sesuai dengan ijtihadnya tanpa harus keluar dari perkataan Shahabah yang ada itu, dan jika ada beberapa pendapat dari kalangan Tabi’in beliau lebih cenderung berijtihad sendiri.

5. Qiyas, belaiu menggunakannya jika mendapatkan permasalahan yang tidak ada nash yang menunjukkan solusi permasalahan tersebut secara langsung atau tidak langsung (dilalah isyarah atau thadhammuniyah). Disinilah nampak kelebihan Imam Abu Hanifah dalam mencari sebab (ilat) hukum.

6. Istihsan, dibandingkan imam-imam yang lain, Imam Abu Hanifah adalah orang yang paling seirng menggunakan istihsan dalam menetapkan hukum.

7.Urf, dalam masalh ini Imam Abu Hanifah juga termasuk orang yang banyak memakai ‘urf dalam masalah-masalah furu’ Fiqh, terutama dalam masalah sumpah (yamin), lafaz talak, pembebasan budak, akad dan syarat.

IMAM ABU HANIFAH DAN ULAMA YANG SEMASA DENGANNYA

Diantara ulama-ulama yang semasa dengannya di Kufah adalah Imam Sufyan ats-Tsauri r.a (ulama Hadits), Imam Syarik bin Abdillah an-Nakha’i (ulama Fiqh) dan Muhammad bin Abdurrahman bin Abi Laila (ulama Fiqh). Hubungan antara Imam Abu Hanifah dengan mereka tidak terlalu baik, perbedaan antara Ahli Hadits dengan Ahli Ra’yi berpengaruh kepada hubungan beliau dengan Imam ats-Tsauri r.a, sedangkan dengan Imam Ibnu Abi Laila r.a, yang waktu itu menjadi Qadhi di Kufah, kurang harmonis juga karena beliau sering mengeluarkan fatwa yang berbeda dengan Imam Ibnu Abi Laila r.a, sehingga kadang-kadang ada peringatan dari pemimpin negeri agar Imam Abu Hanifah tidak mengeluarkan Fatwa, sementara dengan Imam Syarik r.a ada sedikit persaingan karena satu masa. Meskipun demikian Imam Abu Hanifah r.a tetap memiliki kharisma yang tinggi di kalangan masyarakat, terbukti banyak sekali murid-muridnya yang menjadi ulama besar, diantara muridnya yang terkenal adalah Imam Abu Yusuf Ya’qub bin Ibrahim al-Anshari, Imam Muhammad bin Hasan bin Farqad asy-Syaibani (kemudian dikenal sebagai shahiba Abi Hanifah ulama besar mazhab Hanafi), Imam Zufar bin Hudzail bin Qais al-Kufi dan Imam Hasan bin Ziyad al-Lu’lu’i.

b. Profil Rigkas Imam Abu Yusuf

Lengkapnya beliau bernama Abu Yusuf Ya’qub bin Ibrahim bin Habib al-Anshari. Lahir kira-kira tahun 113 H dan meninggal tahun 182 H. Banyak ulama yang menganggap beliau adalah seorang mujtahid muthlaq, setara dengan Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad bin Hanbal.

Guru yang paling berpengaruh dalam pembentukan dan pembinaan ilmu beliau adalah Imam Muhammad Ibnu Abi Laila al-Qadhi dan kemudian Imam Abu Hanifah sendiri. Abu Yusuf mengambil Fiqh dan belajar banyak dari Abu Hanifah, disebutkan sekitar 17 tahun lamanya Abu Yusuf melakukan mulazamah dengan Abu Hanifah dan bisa dikatakan Abu Hanifahlah yang mengisi pundi-pundi ilmu Abu Yusuf sehingga menjadi seorang yang tidak kalah hebatnya dri Abu Hanifah sendiri, sedang dari Ibnu Abi Laila, Abu Yusuf banyak belajar tentang Qadha’ (hukum dan kehakiman), dengan demikian Abu Yusuf telah mendapatkan Fiqh secara ilmu dan praktek sekaligus dari dua tokoh tersebut. Namun demikian Imam Abu Hanifah tetap orang yang paling berpengaruh pada dirinya bahkan beliau menganggap Abu Hanifah lebih dari orang tua dan keluarganya sendiri.

Disamping belajar khusus dari kedua Imam di atas, Abu Yusuf juga belajar dari banyak ulama-ulama besar lainnya, seperti Abu Ishaq asy-Syaibani, Abdul Malik bin Juraih, al-Hajjaj bin Arthah, Sufyan bin ‘Uyaynah, Ubaidillah bin Umar, Abdullah bin Umar, Malik bin Anas, Muhammad bin Ishaq (pengarang al-Maghazi), dan ulama-ulama lainnya dari Hijaz, Irak dan negeri-negeri lain. Maka tidaklah mengherankan jika beliau dikatakan lebih faqih dari Abu Hanifah, kita saksikan sendiri bagaimana Imam Abu Yusuf mengambil ilmu dari dua aliran besar Fiqh ketika itu, Madrasah ar-Ra’yi dan Madrasah al-Hadits. Yahya bin Ma’in berkomentar: “Saya tidak pernah melihat di kalangan ashhab ar-ra’yi yang paling tsabit (kuat) dalam masalah hadits, paling kuat hafalan (ahfazh) dan paling shahih riwayatnya dari Abu Yusuf”. Dan tentang pengaruh beliau di kalangan masyarakat kita cukupkan dengan komentar Imam Ahmad bin Hanbal: ” Dalam menulis/mengambil hadits awalnya saya sering mendatangi Abu Yusuf dan saya menulis hadits darinya, kemudian saya mendatangi orang banyak dan mereka berkata: ” Abu Yusuf lebih kami senangi dari Abu Hanifah dan Muhammad (Ibn Hasan)”. Banyak sekali kisah dan komentar dari para ulama yang menempatkan Abu Yusuf sebagai figur ulama besar umat ini, yang memang pantas memangku gelar Qadhi al-Qudhah untuk pertama kalinya di masa Harun al-Rasyid dan terus berlanjut sampai masa al-Mahdi dan al-Hadi.

Beliau termasuk ulama yang banyak mengarang buku, akan tetapi karangan beliau yang masih bertahan sampai saat ini hanya beberapa saja seperti buku al-Atsar, Ikhtilaf Ibni Abi Laila Wa Abi Hanifah, ar-Radd ‘Ala Siyar al-Auza’i, dan karangan monumental beliau al-Kharraj, yang sampai saat ini banyak dipelajari pakar ekonomi dunia.

c. Profil Ringkas Imam Muhammad bin Hasan asy-Syaibani

Beliau adalah Muhammad bin al-Hasan bin Farqad asy-Syaibani, lahir di daerah Wasith (di Irak) tahun 132 H, dan tumbuh di Kufah sehingga kemudian belajar dari Imam Abu Hanifah. Selain Abu Hanifah, Imam Muhammad juga belajar dari Mus’ir bin Kidam, Sufyan ats-Tsauri, Umar bin Dzar, Malik bin Maghul, Malik bin Anas, al-Auza’i, Zam’ah bin Shalih, Bakir bin Ammar dan Abu Yusuf.
Sedangkan diantara ulama-ulama yang pernah belajar kepada beliau seperti Imam Syafi’i r.a, Abu Sulaiman al-Jauzjani (guru Imam Tirmidzi), Abu Ubaid al-Qasim bin Salam dan lan sebagainya.

Beliau meninggal pada hari yang sama dengan Imam al-Kasa’i tahun 189 H di Ray, sehinga Khalifah Harun ar-Rasyid berkata: ” Telah pergi hari ini Lughah dan Fiqh”.

Imam Muhammad bin Hasan banyak menulis buku dibanding ulama lain yang semasa dengannya dan buku-bukunya tersebut juga banyak yang masih ditemukan saat ini. Buku-buku tersebut di kemudian hari dijadikan sebagai referensi utama Mazhab Hanafi sebagaimana yang diungkapkan Syeikh al-Kautsari . Yang monumental adalah kitab al-Mabsuth, dan disebutkan juga bahwa seorang ahli hikmah dari kalangan Ahli Kitab memeluk Islam setelah membaca buku ini.

d. Tingkatan Ahli Fiqh Mazhab Hanafi (Thabaqat Fuqaha’ al-Hanafiyah)

Mengetahui tingkatan-tingkatan dalam sebuah mazhab sangat berguna dalam bermazhab, sehingga seorang yang bermazhab bisa memposisikan dirinya dan bisa melakukan pemilihan-pemilihan (tarjih) yang benar jika terjadi pertentangan pendapat di dalam satu mazhab, karena mengikuti yang rajih (pendapat yang kuat) merupakan sebuah kemestian baik bagi mujtahid maupun muqallid, terlebih lagi dalam menghukum dan berfatwa.

Imam Muhammad bin Sulaiman (Ibnu Kamal Basya) membagi Ahli Fiqh secara umum kepada tujuh tingkatan:

1. Tingkatan Mujtahid Agama yaitu ulama yang mampu merumuskan kaedah-kaedah ushul dan mampu menetapkan hukum furu’ dari empat sumber (dalil) utama secara independen, tanpa taqlid (mengikut) kepada siapapun, seperti para imam yang empat (Imam Abu Hanifah r.a, Imam Malik r.a, Imam Syafi’i r.a dan Imam Ahmad bin Hanbal r.a).

2. Tingkatan Mujtahid Mazhab yaitu ulama yang mampu mengolah dalil-dalil dan kemudian menghasilkan hukum dengan bantuan kaedah yang telah ditetapkan guru-guru mereka, jadi meskipun di sebagian permasalahan mereka berbeda dengan sang guru, akan tetapi meereka masih mengikut (taqlid) dari sisi kaedah ushul. Dalam hal ini dalam mazhab Hanafi seperti Imam Abu Yusuf r.a, Muhammad bin Hasan r.a dan murid-murid Abu Hanifah r.a lainnya.

3. Tingkatan Mujtahid dalam permasalahan-permasalahan yang tidak ditemukan riwayat atau sumber langsung dari shahib al-madzhab (Imam Abu Hanifah r.a), namun mereka tidak mampu menyalahi pendapat Imam, baik dalam segi ushul maupun furu’, hanya saja mereka menetapkan hukum-hukum dengan menggunakan kaedah ushul yang ditetapkan Imam. Ulama tingkatan ini seperti al-Khashaf (w. 261 H), Abu Ja’far ath-Thahawi (w. 321 H), Abu al-Hasan al-Karkhi (w. 340 H), Syamsul A’immah al-Helwani (w. 448 H), Syamsul A’immah as-Sarkhasi (w. 500 H), Fakhrul Islam al-Bazdawi (w. 482 H), Fakhruddin Qadhikhan (w. 593 H) dan lain sebagainya.

4. Tingkatan Ashhab at-Takhrij dari golongan muqallidin (lawan mujtahid) yaitu ulama yang belum mampu berijtihad dalam masalah ushul, akan tetapi dengan kemampuan mereka menguasai permasalahan ushul dan kaedah ushul, mereka mampu menjelaskan ungkapan atau istilah yang bersifat umum yang memiliki beberapa kemungkinan makna dan menjelaskan hukum yang memiliki dua kemungkinan, apakah hukum ini dari shahib al-mazhab atau dari murid-muridnya, kemampuan mereka ini ditopang juga dengan kekuatan logika dan nalar mereka terhadap ushul dan kaedah-kaedah, dan kemudian mereka bisa menerapkannya ke dalam permasalahan furu’ yang semisal atau tergolong kedalam kategorinya. Ulama tingkatan ini seperti Imam Ahmad bin Ali bin Abu Bakar ar-Razi yang lebih dikenal dengan Imam Jashash, pengarang Ahkam al-Qur’an (w. 370 H)

5. Tingkatan Ashhab at-Takhrij juga, namun tingkatan ini mereka hanya baru mampu memilih-milih riwayat-riwayat/perbedaan-perbedaan pendapat yang ada, biasanya mereka sering menggunakan kata-kata hadza aula (inilah yang lebih utama), hadza ashahur riwayah (ini riwayat yang paling benar), hadza audhah (ini yang paling jelas), hadza aufaq lil qiyas (ini yang paling sesuai dengan qiyas) atau hadza arfaq lin nas (ini yang paling ringan bagi manusia). Contoh ulama Hanafi jenis ini seperti Imam Abu Hasan al-Qadduri dan Imam al-Marghinani, pengarang al-Hidayah (w. 593 H)

6. Tingkatan Pengikut (Muqallid) yang mampu membedakan antara al-aqwa (yang paling kuat), al-qawi (yang kuat), adh-dha’if (yang lemah), zhahir ar-riwayah, zhahir al-mazhab dan riwayah nadirah, biasanya mereka tidak mengutip perkataan-perkataan yang ditolak dalam mazhab dan riwayat-riwayat yang lemah. Mereka adalah ulama-lama pengarang matan yang sering dipakai di kalangan mazhab, seperti pengarang kitab al-kanz, pengarang kitab al-mukhtar, pengarang kitab al-wiqayah,dan pengarang kitab al-majma’.

7. Tingkatan Muqallid yang tidak mampu melakukan hal-hal yang di atas, dan mengenai kelompok ini Ibnu Kamal Basya mengomentari: “Celakalah siapa yang mengikuti mereka ini!”.

e. Tingkatan Jenis Permasalahan Dan Buku Referensi Dalam Mazhab Hanafi

Salah satu ciri khas mazhab Hanafi adalah dalam metode pengajaran dan penulisan buku, mereka biasa mengumpulkan masalah-masalah furu’ untuk kemudian dicarikan hukumnya dan diwariskan disetiap generasi, dari masalah-masalah itulah mereka menghasilkan kaidah-kaidah umum baik dalam bidang Ilmu Ushul maupun Ilmu Fiqh, jadi yang diwariskan dari imam-imam mereka bukanlah kaidah-kaidah yang baku sebagaimana yang lazim di mazhab lain, melainkan sekumpulan permasalahan. Inilah yang dikemudian hari menjadikan mereka membentuk satu aliran besar dalam bidang Ushul Fiqh, Aliran Hanafiyah atau Aliran Fuqaha’. Dan budaya ini juga yang menempatkan mereka sebagai perintis lahirnya Ilmu Qawaid Fiqhiyah.

Terdapat 3 jenis permasalahan yang diriwayatkan dalam buku-buku referensi mazhab Hanafi:

a. Permasalahan Zhahir ar-Riwayah (masalah asasi/ushul), yaitu masalah-masalah yang diriwayatkan dari Ashhab al-Madzhab (Imam Abu Hanifah, Imam Abu Yusuf dan Imam Muhammad) atau yang dikenal juga dengan sebutan “Ulama yang tiga”, di beberapa kesempatan kadang juga memasukkan murid-murid Abu Hanifah yang lainnya. Masalah-masalh ini dapat dijumpai dalam karangan-karangan Imam Muhammad bin Hasan asy-Syaibani seperti al-Mabsuth (al-Ashlu), az-Ziyadat, al-Jami’ ash-Shaghir, al-Jami’ al-Kabir, as-Siyar ash-Shaghir dan as-Siyar al-Kabir.
Permasalahan ini disebut zhahir ar-Riwayah karena diriwayatkan dari Imam Muhammad secara yakin dan pasti, mutawatir atau paling kurang masyhur. Ada satu buku lain yang juga dikenal sebagai buku asasi yaitu buku al-Kafi karangan Imam Muhammad bin Muhammad bin Ahmad al-Maruzi al-Balkhi, buku ini merupakan buku referensi utama dalam mazhab.

b. Permasalahan Nawadir, yaitu masalah-masalah yang diriwayatkan dari Ashhab al-Mazhab namun bukan dari buku-buku yang disebutkan di jenis pertama, bisa jadi di buku-buku karangan Imam Muhammad yang lain seperti al-Kisaniyat, al-Haruniyat, al-Jurjaniyat dan ar-Riqqiyat

c. Permasalahan al-Fatawi wa al-Waqi’at, yaitu masalah-masalah yang dihasilkan para mujtahid generasi belakangan ketika ditanya namun tidak mendapatkan jawaban pada riwayat-riwayat yang ada dari Ashhab al-Madzhab. Contoh buku-buku yang tergolong jenis ini seperti an-Nawazil karangan Abu Laits as-Samarqandi, Majmu’ an-Nawazil Wa al-Hawadits Wa al-Waqi’at karangan Ahmad bin Musa al-Kasyi, al-Waqi’at karangan Abul Abbas Ahmad bin Ahmad ar-Razi, al-Muhith karangan Radhiyuddin as-Sarkhasi dan lain-lain.
Jika terjadi pertentangan antara masalah-masalah tersebut maka didahulukanlah yang dahulu berdasarkan urutan di atas.

Pembagian jenis permasalahn tersebut sekaligus menjelaskan urutan buku dan referensi yang digunakan di dalam Mazhab Hanafi.
Diantara buku-buku penting yang juga menjadi pegangan pokok seperti kitab al-Hidayah Syarh Bidayah al-Mubtadi karangan Syeikhul Islam al-Marghinani, adz-Dzakhirah al-Burhaniyah yang juga karangan beliau, dan Badai’ ash-Shanai’ karangan Imam al-Kasani.
Akan tetapi, disamping buku-buku diatas, masih banyak buku-buku lain yang menjadi referensi penting dalam Fiqh Hanafi, baik itu berupa mutun, mukhtashar, maupun syuruh.

f. Penyebaran Mazhab Hanafi

Mazhab Hanafi banyak berkembang awalnya di Baghdad dan Kuffah, namun kemudian terus meluas sampai ke daerah-daerah lain, khususnya yang pernah berada di bawah kekuasaan Abbasiyah, seperti Mesir, Syam, Tunis, Jazair, Tripoli, Yaman, India, Parsi, Romawi, Cina, Bukhara, Afghan, Turkistan bahkan Brazil. Sampai saat ini bisa dikatakan Mazhab Hanafi banyak dipakai di Irak, Syam/Syiria, India, Turkistan, negera-negara Kaukasia, Turki, Albania dan di kawasan Balkan.

Diantara poin penting yang menjadikan penyebaran Mahzab ini ke banyak negeri adalah:

1. Banyaknya murid Abu Hanifah dan perhatian mereka dalam menyebarkan dan menjelaskan pendapat-pendapat Imam mereka.

2. Mazhab Hanafi dijadikan sebagai mazhab resmi negara semasa kekuasaan Abbasiyah.

3. Pengangkatan Imam Abu Yusuf sebagai Qadhi al-Qudhah (hakim tertinggi) yang memiliki kekuatan dalam memilih qudhahi (hakim-hakim) di daerah-daerah, dan para hakim tersebut selalu memakai pendapat Imam Abu Yusuf dalam memutuskan perkara-perkara.

4. Perhatian besar ulama-ulama Mazhab ini dalam percepatan pertumbuhan Mazhab Hanafi dengan mencurahkan kemampuan mereka dalam mencari ilat hukum dan sekaligus mempraktekkannya dalam banyak masalah-masalah baru yang timbul. Hal ini menjadi Mazhab ini selalu memiliki solusi-solusi dalam setiap permasalahan.

About these ads

7 Komentar »

  1. tifad Said:

    hi, apa kabar abrar?.. ngomong2 ini alamat blog pit yang baru http://www.tifad.wordpress.com. Kalau ada kesempatan kunjungi blog baru pit yo!

  2. reza Said:

    lik tolong kamu pake juga referensinya orang-orang syiah…

  3. Iyat Said:

    terimakasih atas ILMUnya

  4. thohir Said:

    hmmm….. smart blog

  5. 12250915 Said:

    hmmmm

  6. ashabulyamin Said:

    like,this…..smangat

  7. http://cargoshortsforwomen.net/ Said:

    I am curious to find out what blog platform you’re using? I’m experiencing some minor security issues with my latest
    site and I would like to find something more safeguarded.
    Do you have any recommendations?


{ RSS feed for comments on this post} · { TrackBack URI }

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: